Foundation Future Industries Kirim Robot Humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina

Foundation Future Industries Kirim Robot Humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina

Startup robotika asal San Francisco, Foundation Future Industries, mencetak sejarah baru dengan mengirimkan dua unit robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina untuk dikerahkan di teater pertempuran aktif. Langkah tersebut menandai pengerahan perdana robot berbentuk manusia di medan perang, seperti dilansir dari Detik iNET pada Rabu (3/6/2026).

Pengiriman ini menjadi bagian dari uji coba teknologi militer mutakhir di medan perang Ukraina yang terus berkembang. Pihak pengembang menyatakan bahwa pengerahan teknologi pintar ini bertujuan untuk mengurangi risiko fatal yang dihadapi oleh personel militer di wilayah konflik.

CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah menciptakan mesin yang mampu mengambil alih peran berbahaya dari manusia, khususnya untuk misi-misi di zona konflik. Berdasarkan uji coba di lokasi, kemampuan Phantom MK-1 saat ini masih terbatas pada tugas logistik, termasuk mengambil dan mengantarkan pasokan.

Robot generasi pertama ini dilaporkan masih memiliki sejumlah keterbatasan teknis yang signifikan dalam operasionalnya. Phantom MK-1 hanya memiliki kapasitas angkut maksimal sekitar 20 kilogram, belum mengantongi sertifikasi tahan air, serta memiliki daya tahan baterai yang belum memadai untuk pengerahan skala besar.

Pengembangan teknologi ini dipastikan akan terus berlanjut dengan rencana pengiriman unit model terbaru dalam waktu dekat. Perusahaan tersebut menjadwalkan pengiriman generasi penerus ke Ukraina pada tahun ini.

"kemampuan super" kata pihak perusahaan mengenai model terbaru bernama Phantom 2 tersebut yang diklaim memiliki kapasitas muatan dua kali lipat lebih besar dari pendahulunya.

Selain keterlibatan di Ukraina, perusahaan yang didirikan pada tahun 2024 ini juga telah memperluas jangkauan operasionalnya ke sektor pertahanan domestik. Foundation dilaporkan telah mengantongi kontrak penelitian dari pemerintah Amerika Serikat senilai USD 24 juta atau sekitar Rp 390 miliar.

Kontrak kerja sama tersebut melibatkan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS untuk menguji kelayakan robot dalam tiga bidang utama. Pengujian mencakup inspeksi area berbahaya, logistik dan suplai amunisi, hingga penanganan senjata (weapons handling).

Pathak menargetkan agar robot-robot produksinya siap diuji di garis depan bersama militer AS dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, sekaligus meningkatkan skala produksinya hingga ribuan unit pada tahun ini. Namun, langkah ekspansi ini juga memicu sorotan politik di dalam negeri akibat bergabungnya Eric Trump sebagai Kepala Penasihat Strategi perusahaan yang menimbulkan kritik dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren.

Perkembangan teknologi militer otonom ini memicu kekhawatiran global yang semakin membesar karena potensi penghapusan manusia dari rantai keputusan mematikan (kill-chain). Selain Amerika Serikat, China juga dilaporkan gencar menguji aplikasi militer dari robot humanoid untuk peperangan masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi