China terus memacu pengembangan teknologi internet satelit untuk menyaingi dominasi Starlink milik SpaceX. Langkah terbaru ditunjukkan oleh salah satu perusahaan antariksa swasta asal Negeri Tirai Bambu, Galaxy Space.
Seperti dilansir dari Tekno, Galaxy Space memperkenalkan inovasi antena satelit unik yang memiliki bentuk menyerupai payung lipat. Perangkat ini dirancang agar dapat dilipat rapat saat berada di dalam roket peluncur, kemudian mengembang otomatis setelah mencapai orbit Bumi.
Sistem mekanismenya yang mirip dengan alat pelindung hujan membuat teknologi ini mendapatkan julukan sebagai "space umbrella" atau payung luar angkasa. Galaxy Space mengklaim bahwa perangkat canggih tersebut merupakan antena deployable umbrella performa tinggi pertama di China yang berhasil diproduksi oleh sektor swasta.
Inovasi antena berbentuk payung ini sengaja dikembangkan untuk mendukung satelit yang beroperasi di orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO). Infrastruktur ini nantinya bakal menyokong sistem komunikasi, navigasi, pemetaan Bumi, hingga jaringan internet satelit.
Salah satu target utama dari pembuatan teknologi ini adalah memfasilitasi koneksi langsung dari satelit ke smartphone atau direct-to-cell. Mekanisme tersebut serupa dengan sistem yang tengah digarap oleh Starlink milik Elon Musk.
Melalui teknologi ini, ponsel pintar masa depan dapat terhubung langsung dengan jaringan internet berbasis satelit. Pengguna tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada keberadaan menara BTS (Base Transceiver Station) di daratan.
Layanan komunikasi semacam ini menjadi sangat krusial untuk memfasilitasi wilayah terpencil yang belum terjangkau sinyal. Selain itu, sistem ini sangat berguna sebagai jalur komunikasi darurat saat bencana alam melanda dan merusak jaringan seluler bumi.
Efisiensi Ruang Roket dan Performa Lebih Kuat
Desain mirip payung lipat ini sengaja dipilih oleh Galaxy Space demi mengoptimalkan keterbatasan ruang di dalam roket peluncuran. Antena satelit pada umumnya membutuhkan dimensi yang besar agar bisa memancarkan serta menerima sinyal dengan kuat.
Melalui konsep lipat, antena dapat dikompres hingga hanya menyisakan diameter sekitar 1 meter dengan rasio penyimpanan di bawah 12 persen. Ukuran sekecil ini membuat antena bisa masuk ke dalam pelindung yang setara dengan casing komputer kecil sebelum diterbangkan.
Fleksibilitas dimensi ini menjadi poin penting karena roket modern kerap membawa banyak muatan satelit sekaligus dalam satu kali penerbangan. Kompresi ukuran ini memungkinan satelit mengusung reflektor komunikasi yang lebih besar tanpa mengorbankan ruang peluncuran.
Walaupun dimensinya sangat ringkas ketika dilipat, Galaxy Space mengklaim daya konektivitas payung luar angkasa ini mencapai 10 kali lipat lebih kuat dibandingkan antena mekanis Q/V-band generasi terdahulu.
Proses produksinya juga diklaim jauh lebih efisien karena meninggalkan metode anyaman manual yang biasa diterapkan pada antena mesh satelit konvensional. Sebagai gantinya, Galaxy Space mengadopsi teknologi pembentukan mesh terintegrasi yang mampu mendongkrak efisiensi pembuatan hingga di atas 70 persen.
Langkah ini diklaim menjadi bagian dari tren baru industri kedirgantaraan China yang mulai memproduksi perangkat luar angkasa secara massal dengan metode manufaktur modern. Sejauh ini, Galaxy Space belum membagikan jadwal resmi terkait peluncuran antena tersebut ke orbit rendah Bumi.