Garis Lintang Pengaruhi Durasi Puasa Ramadan 2026 di Berbagai Negara

Garis Lintang Pengaruhi Durasi Puasa Ramadan 2026 di Berbagai Negara

Durasi ibadah puasa Ramadan di berbagai belahan dunia memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan. Rentang waktu menahan lapar dan haus ini sangat dipengaruhi oleh posisi garis lintang (latitude) serta pergantian musim pada masing-masing negara.

Seperti dilansir dari Caritahu, hitungan durasi puasa tersebut dimulai sejak masuknya waktu imsak atau subuh hingga tibanya waktu maghrib. Faktor geografis ini membuat waktu berpuasa umat Muslim antarnegara menjadi tidak sama.

Pada pelaksanaan Ramadan 1447 H atau tahun 2026 M yang diperkirakan mulai tanggal 18–19 Februari 2026, perbedaan durasi puasa secara global tidak terlalu ekstrem. Hal ini terjadi karena momen Ramadan bertepatan dengan musim dingin di belahan bumi utara dan musim panas di belahan bumi selatan.

Wilayah yang berada di belahan bumi selatan (Southern Hemisphere) sedang melewati masa siang yang lebih panjang selama periode Februari 2026. Situasi tersebut menyebabkan masyarakat Muslim di sana harus berpuasa selama 14 hingga 15 jam atau lebih pada fase awal Ramadan.

Berdasarkan data astronomi dan perkiraan hisab tahun 2026, kota Christchurch di Selandia Baru menjadi salah satu wilayah dengan durasi puasa terlama yang mencapai sekitar 15 jam 22 menit. Diikuti oleh kota Puerto Montt di Chile dengan waktu puasa berkisar 15 jam 13 menit.

Selanjutnya, umat Muslim di Canberra, Australia, mencatatkan durasi puasa sekitar 14 jam 48 menit. Sementara untuk wilayah Montevideo di Uruguay serta Buenos Aires di Argentina berdurasi sekitar 14 jam 42 menit, dan kota Johannesburg di Afrika Selatan berada di kisaran 14 jam 13 menit.

Wilayah dengan Durasi Puasa Paling Singkat

Kondisi sebaliknya berlangsung di belahan bumi utara (Northern Hemisphere) yang sedang mengalami waktu siang lebih pendek akibat musim dingin pada Februari 2026. Durasi puasa di kawasan ini tercatat hanya berlangsung sekitar 11 sampai 13 jam saja.

Beberapa kota di Eropa Utara dan Rusia mencatatkan waktu puasa tercepat, seperti Helsinki di Finlandia dan Moskow di Rusia yang berdurasi sekitar 11 jam 44 menit. Kemudian wilayah Oslo di Norwegia menempuh waktu 11 jam 51 menit, serta Stockholm di Swedia selama 11 jam 52 menit.

Untuk kawasan Paris di Prancis maupun Reykjavik di Islandia, durasi puasa berada pada kisaran 11 hingga 12 jam. Pada wilayah dengan lintang yang sangat tinggi dekat kutub, waktu puasa bisa menjadi jauh lebih singkat pada awal Ramadan karena matahari terbit lambat dan terbenam lebih cepat.

Penyebab Perbedaan Waktu Puasa Global

Keberagaman durasi puasa ini terjadi akibat rotasi Bumi beserta kemiringan sumbunya yang berada di angka sekitar 23,5 derajat. Ketika bumi utara mengalami musim dingin, waktu siang menjadi lebih pendek sehingga puasa berlangsung lebih singkat.

Sebaliknya, belahan bumi selatan yang mengalami musim panas membuat waktu siang menjadi lebih lama dan memperpanjang masa puasa. Sementara bagi kawasan tropis di sekitar garis khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi, durasi puasa cenderung stabil pada kisaran 12 sampai 14 jam.

Pada wilayah lintang ekstrem dekat kutub, umat Muslim biasanya mengikuti aturan fatwa khusus seperti merujuk pada waktu Mekah atau negara terdekat yang normal. Selisih durasi puasa terlama dan tercepat pada Ramadan 2026 ini tergolong kecil, yaitu berkisar 3 hingga 4 jam saja.

Artikel terkait

Rekomendasi