Gaun pengantin kini menjadi barang super mewah bagi masyarakat di Gaza, Palestina. Lonjakan harga yang sangat tinggi memaksa para calon pengantin untuk memilih gaun bekas sebagai alternatif.
Dilansir dari Wolipop, para calon mempelai perempuan di wilayah tersebut saat ini sangat kesulitan untuk memperoleh gaun pengantin baru. Hambatan ini dipicu oleh kelangkaan pasokan yang terjadi di pasar setempat.
Sejumlah importir mengungkapkan bahwa kelangkaan dan kenaikan harga disebabkan oleh keterlambatan pengiriman serta tingginya biaya logistik. Selain itu, terdapat pembatasan untuk mendatangkan bahan hiasan mewah seperti kristal. Konflik yang terjadi juga mengakibatkan banyak tempat usaha jahit mengalami kerusakan.
Harapan baru muncul dari sebuah bengkel jahit berskala kecil yang berada di wilayah Gaza selatan. Nisreen Al-Rantisi, seorang penjahit di kawasan tersebut, berinisiatif menyulap kembali gaun-gaun pengantin lama yang sudah usang agar bisa digunakan kembali.
"Kami mencoba menggunakan kembali gaun lama yang ada, memperbaikinya sedikit, mencucinya, merapikannya, lalu membentuknya kembali," ujar Rantisi seperti dikutip dari Reuters.
Sebelum konflik pecah, Rantisi dapat membeli bahan kain dengan harga berkisar antara 120 hingga 150 shekel atau sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 620 ribu. Namun, saat ini harga komoditas kain tersebut telah melambung tinggi hingga mencapai 500 shekel yang setara dengan Rp 2 jutaan.
"Kondisi ini membuat biaya gaun pengantin dan pakaian anak naik drastis. Kami hidup dalam lingkaran perang yang terus berdampak pada kehidupan kami," katanya.
Harga yang Tidak Masuk Akal
Kenaikan harga yang tidak terkendali ini juga dibenarkan oleh Rawan Shalouf, salah seorang pekerja di toko gaun pengantin. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini telah mengubah struktur harga pakaian pernikahan secara drastis.
"Sebelum perang, harga masih masuk akal untuk semua orang. Tapi sekarang, dalam kondisi seperti ini, harga gaun benar-benar tidak masuk akal," ujarnya.
Saat ini, gaun pengantin dengan harga paling murah di Gaza dipatok dengan nilai lebih dari US$1.000 atau berkisar Rp 16 jutaan. Sementara itu, kemampuan finansial yang dimiliki oleh keluarga calon pengantin umumnya berada di bawah US$200.
"Seluruh mahar saja tidak cukup untuk membeli satu gaun," ujar Shahed Fayez calon pengantin di Gaza yang kesusahan mencari gaun pengantin baru dengan harga terjangkau.