Ketika Raline Shah melangkahkan kaki di karpet merah Cannes Film Festival 2026, Cannes, Prancis, mudah untuk mengenali bahwa gaun yang dipakainya adalah rancangan Sapto Djojokartiko.
Untuk kesekian kalinya, bintang film Indonesia yang tergabung dalam manajemen Artist International Group itu memakai gaun Sapto di salah satu festival film internasional terbesar di dunia itu. Terakhir kali di karpet merah utama Cannes 2024, terusan bersiluet kebaya karya perancang asal Solo, Jawa Tengah, itu membungkus tubuh Raline.
Kali ini, untuk momen karpet merah premier film 'El Ser Querido (The Beloved)', Sabtu (16/5/2026), look yang ditawarkan berbeda. Lebih modern dalam balutan gaun bersiluet mermaid, tapi tetap dengan detail yang merayakan warisan budaya Indonesia (Raline juga memakai kebaya Sapto di kesempatan lain).
Kepada Wolipop, Sapto berbagi cerita tentang masterpiece tersebut, mulai dari inspirasi, tantangan, hingga alasannya untuk tetap konsisten menggunakan palet khas Sapto Djojokartiko untuk setiap momen glamor Raline di Cannes Film Festival. Berikut kutipan wawancaranya:
"Inspirasi utamanya sebenarnya datang dari keinginan untuk menghadirkan siluet yang klasik, tetapi tetap terasa modern dan relevan dengan masa kini. Untuk penampilan Raline di premiere 'The Beloved', saya ingin membawa nuansa glamor yang timeless, namun tetap memiliki sentuhan personal lewat detail heritage Indonesia yang subtle. Karena itu, kami menghadirkan bordir motif #SAPTOJOPattern Yayi Ukir di seluruh permukaan ballgown, sehingga gaun ini bukan hanya tentang kemewahan secara visual, tetapi juga tentang craftsmanship dan identitas yang selalu menjadi bagian dari DNA SAPTO DJOJOKARTIKO." ujar Sapto Djojokartiko, Perancang Busana.
Motif Yayi Ukir yang rumit ini ternyata memiliki keserasian visual yang memikat dengan aksesori mewah pendukung penampilan sang aktris. Desainer asal Solo tersebut kemudian memaparkan proses kreatif dalam memadukan motif kain rancangannya dengan perhiasan papan atas yang melengkapi kemegahan gaun tersebut."Motif Yayi Ukir sendiri terinspirasi dari perpaduan elemen ukiran dan tekstur tenun tradisional yang kemudian kami reinterpretasikan bersama motif signature kami, yaitu Penara. Jadi di dalam struktur motif tenun tersebut, kami memasukkan elemen Penara dan mengolahnya kembali hingga menghasilkan motif baru yang terasa lebih kaya detail namun tetap halus dan elegan. Saya pribadi senang melihat bagaimana motif ini akhirnya bisa berpadu harmonis dengan perhiasan Chopard yang dikenakan Raline, terutama karena ada nuansa art-deco yang membuat keseluruhan look terasa semakin elegan dan dimensional." kata Sapto Djojokartiko, Perancang Busana.
Ratusan Jam Kerja dan Tantangan Konstruksi
Dedikasi tinggi dalam penciptaan gaun ini mengingatkan publik pada karya legendaris sebelumnya. Jika pada gelaran Cannes tahun lampau sebuah mahakarya membutuhkan ribuan jam kerja, proses pembuatan untuk busana kali ini juga menuntut konsentrasi yang tidak kalah luar biasa.
"Untuk gaun kali ini, proses pengerjaannya memakan waktu kurang lebih 800 jam. Walaupun berbeda dari look sebelumnya, setiap detail tetap dikerjakan dengan perhatian yang sangat besar, mulai dari konstruksi, pengerjaan bordir, hingga finishing. Bagi saya, proses seperti ini penting supaya siluet gaun bisa terlihat effortless dan menyatu dengan baik saat dikenakan." cetus Sapto Djojokartiko, Perancang Busana.
Selama ratusan jam pengerjaan tersebut, tim desainer dihadapkan pada kerumitan teknis yang cukup tinggi. Sapto menguraikan titik paling krusial dalam mewujudkan gaun agar tetap memiliki struktur kokoh sekaligus nyaman digerakkan.
"Tantangan terbesarnya justru ada pada konstruksi ballgown tersebut, terutama di bagian bow. Kami harus memastikan bentuknya tetap steady dan sculptural, tetapi di saat yang sama tetap terasa ringan dan lembut ketika dipakai bergerak. Jadi selama proses pengerjaan, kami banyak fokus pada balancing antara struktur dan kelembutan gerak agar hasil akhirnya tetap terlihat natural di tubuh." tutur Sapto Djojokartiko, Perancang Busana.
Strategi di Balik Warna Konsisten
Selain kerumitan motif dan struktur gaun, hal yang menarik perhatian adalah konsistensi warna yang dipertahankan dari tahun ke tahun. Sapto memiliki alasan mendalam dan landasan filosofis tersendiri dalam menetapkan pilihan warna ikonik untuk penampilan sang aktris.
"Warna Oyster memang sudah lama menjadi salah satu signature palette dari SAPTO DJOJOKARTIKO karena menurut saya warna ini memiliki karakter yang timeless, understated, dan elegan. Untuk penampilan di Cannes kali ini, Raline juga secara personal memang menginginkan warna Oyster karena merasa palet tersebut merepresentasikan sisi klasik dan anggun dari dirinya sendiri. Saya merasa warna ini memiliki kekuatan untuk tampil standout tanpa harus terasa berlebihan, sekaligus memberi ruang bagi detail craftsmanship, tekstur bordir, dan siluet gaun untuk terlihat lebih hidup di bawah pencahayaan red carpet." jelas Sapto Djojokartiko, Perancang Busana.