Kampanye pengurangan sampah gencar mendorong masyarakat untuk membawa tempat minum sendiri, tas belanja pribadi, atau menghindari plastik sekali pakai. Namun, terdapat satu hal yang kerap terlupakan bahwa praktik hidup minim limbah sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.
Prinsip berkelanjutan tersebut telah dijalankan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari lewat budaya dan kearifan lokal, jauh sebelum istilah sustainability atau zero waste populer. Kebiasaan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan, besek bambu untuk wadah hidangan, hingga membawa keranjang sendiri ke pasar menjadi buktinya.
Praktik yang telah membantu mengurangi limbah selama puluhan tahun tersebut perlahan mulai ditinggalkan seiring berkembangnya budaya konsumsi. Kehadiran kemasan sekali pakai yang dianggap lebih praktis menggeser kebiasaan lama ini, seperti dikutip dari Suara.
Kebiasaan lama masyarakat Indonesia sebenarnya kembali relevan di tengah peningkatan persoalan limbah saat ini. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai sekitar 33,8 juta ton pada 2024.
Sampah plastik menyumbang porsi yang cukup besar dari total limbah yang diproduksi masyarakat. Jumlahnya mencapai hampir seperlima atau sekitar 19,64 persen dari keseluruhan timbulan sampah.
Masyarakat Indonesia pada masa lalu dinilai telah menerapkan pola hidup yang jauh lebih ramah lingkungan dibanding generasi saat ini. Penilaian tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Program dan Aksi KOPHI Yogyakarta, Nurhayati, dalam diskusi “Less Waste Talk: Langkah Kecil untuk Lingkungan Kita” yang digelar Yoursay.id, Suara Hijau, dan KOPHI Jawa Tengah.
Banyak aktivitas yang kini dianggap merepotkan sebenarnya pernah menjadi bagian normal dari keseharian, salah satunya adalah pemanfaatan daun sebagai pembungkus makanan.
“Misalnya harus ngebungkus makanan pakai daun itu jadi rasanya ribet, padahal itu kita yang sudah melupakan kebiasaan baik kita aja sih di zaman dulu,” ujar Nurhayati.
Pergeseran Nilai Akibat Budaya Instan
Pandangan mengenai ketidakpraktisan kemasan alami muncul karena masyarakat kian terbiasa dengan budaya serba instan. Padahal, penggunaan daun, bambu, dan material alami lainnya tidak pernah dianggap sebagai beban tambahan pada masa lalu.
“Kalau misalnya kita hidup di zaman dulu, kita mungkin enggak akan komplain. Karena masyarakat Indonesia terbiasa kok dengan gaya hidup yang seperti itu dan enggak ngerasa ribet,” katanya.
Kondisi ini menegaskan bahwa gaya hidup minim sampah bukan konsep yang diimpor dari tren lingkungan global. Pola hidup tersebut justru tumbuh dari kondisi sosial, budaya, serta pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Nurhayati menyebut praktik less waste ini sebagai bagian dari jati diri masyarakat Indonesia yang kini mulai terkikis.
“Padahal gaya hidup yang less waste itu adalah identitas masyarakat Indonesia sebetulnya,” ujarnya.
Sayangnya, kebiasaan ramah lingkungan tersebut tidak lagi melekat dalam keseharian generasi muda. Kemasan alami sering dinilai kuno, sementara produk sekali pakai diidentikkan dengan kemudahan serta modernitas.
Pola konsumsi yang menghasilkan lebih banyak limbah akhirnya menggeser nilai-nilai keberlanjutan dalam budaya masyarakat. Langkah membangun gaya hidup ramah lingkungan di tengah krisis sampah ini tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan kebiasaan baru, melainkan dengan mengingat kembali praktik lama yang pernah ada.