Gen Z Jadikan Layar Ponsel Teman Makan untuk Usir Sepi

Gen Z Jadikan Layar Ponsel Teman Makan untuk Usir Sepi

Menikmati hidangan sembari menatap layar perangkat digital kini menjadi rutinitas yang sulit terpisahkan dari keseharian Generasi Z atau Gen Z. Aktivitas makan tidak lagi sekadar urusan biologis, melainkan telah bertransformasi menjadi waktu bersantai yang dipadukan dengan hiburan digital.

Berbagai platform video seperti YouTube, TikTok, hingga layanan streaming film sering kali dipilih sebagai pendamping saat menyantap makanan. Seperti dikutip dari Megapolitan, fenomena ini menunjukkan bahwa visual dari perangkat elektronik dianggap sebagai elemen pelengkap yang menghidupkan suasana meja makan.

Bagi sebagian anak muda, keheningan saat waktu makan justru menimbulkan rasa tidak nyaman atau canggung. Salah satu pemuda bernama Andreas (26) mengungkapkan bahwa kebiasaan ini bermula sejak dirinya menempuh pendidikan tinggi dan tinggal mandiri di perantauan.

"Dulu awalnya cuma iseng biar enggak sepi, apalagi habis pulang kampus capek dan kamar kos juga sunyi posisinya, lama-lama malah kebiasa," ujarnya saat dihubungi via telepon, Jumat (8/5/2026).

Kini, Andreas mengaku otomatis membuka ponsel atau laptop sesaat sebelum mulai menyantap makanannya. Tanpa tontonan, ia merasa durasi makannya menjadi sangat singkat karena suasana yang terlalu sepi.

"Pernah beberapa kali sengaja coba makan tanpa HP, tapi jadinya hening aja gitu, buru-buru selesai karena enggak ada yang dilihat," ucapnya.

Andreas cenderung memilih konten dengan durasi yang sesuai dengan waktu makannya, biasanya berkisar antara 15 hingga 20 menit. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk mencari penyegaran singkat di tengah kesibukan kerja.

"Jadi makan bukan cuma makan, tapi sambil cari hiburan atau refreshing sebentar dari tugas dan kerjaan," ujarnya.

Namun, penggunaan gadget ini sering kali membuat waktu makan menjadi lebih lama dari yang seharusnya. Jika terus berlanjut menonton video lain, durasi makan bisa membengkak hingga 30 menit.

Fokus yang terbagi ke layar terkadang membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap rasa makanan yang sedang dikonsumsi. Andreas menceritakan pengalamannya saat menonton drama sambil menyantap ayam geprek.

"Waktu itu lagi nonton drama di Netflix sambil makan ayam geprek. Tiba-tiba makanannya habis padahal saya bahkan enggak terlalu ingat rasanya tadi bagaimana," ucap Andreas.

Kebiasaan dari Lingkungan Keluarga

Berbeda dengan Andreas, Darendra (25) sudah terbiasa makan sambil menonton sejak usia dini karena pengaruh televisi yang selalu menyala di rumah. Ia merasa makan dalam kondisi sunyi justru membuat pikirannya mudah terdistraksi oleh beban pekerjaan.

"Kalau makan tanpa nonton saya malah sering bengong sendiri. Kadang pikiran ke mana-mana, kepikiran tugas, kerjaan, atau masalah lain," ujarnya saat ditemui di kawasan Lenteng Agung, Jumat.

Darendra lebih menyukai konten siaran langsung atau podcast yang memberikan kesan ramai di sekitarnya. Hal ini sering membuat dirinya tetap duduk di depan layar meskipun makanan di piringnya sudah habis tak bersisa.

"Harusnya 15 menit selesai, tapi karena keterusan nonton podcast jadi bisa hampir sejam sendiri," ucap Darendra.

Sama seperti Andreas, ia juga pernah mengalami momen di mana ia tidak menyadari makanan telah habis karena terlalu fokus pada tontonan. Darendra merasa akan kesulitan jika harus melepaskan kebiasaan ini dalam waktu dekat.

"Iya sering, pernah lagi nonton live streaming Windah sambil makan, tahu-tahu makanan sudah habis sendiri padahal saya enggak sadar makan secepat itu," katanya.

Analisis Psikologis dan Risiko Mindless Eating

Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa perilaku ini berkaitan erat dengan budaya multitasking dan pola hidup digital yang kuat pada Gen Z. Otak manusia mulai mengasosiasikan momen makan dengan kebutuhan akan stimulasi eksternal yang cepat.

Menurut Virginia, layar sering kali berfungsi sebagai alat pengalih perhatian dari perasaan negatif seperti stres atau kesepian. Ia memperingatkan bahwa hal ini bisa memicu fenomena yang disebut dengan mindless eating.

"Akibatnya, seseorang bisa makan dengan lebih cepat, lebih banyak dari yang dibutuhkan atau justru tidak benar-benar menikmati makanan. Hal ini dikenal sebagai fenomena mindless eating," ujarnya.

Jika terus dilakukan, kondisi ini dapat menyebabkan otak sulit menikmati ketenangan tanpa distraksi digital. Virginia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi pikiran dan tubuh untuk tetap sadar saat menjalani aktivitas harian.

"Jika otak terus terbiasa dengan stimulasi eksternal, momen hening bisa mulai terasa membosankan, bahkan tidak nyaman dan membuat gelisah," kata Virginia.

Artikel terkait

Rekomendasi