Generasi Peduli Iklim Sederhanakan Edukasi Lingkungan Lewat Media Sosial

Generasi Peduli Iklim Sederhanakan Edukasi Lingkungan Lewat Media Sosial

Pembahasan mengenai lingkungan hidup sering kali dinilai rumit dan kurang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya generasi muda. Istilah teknis seperti dekarbonisasi, valorisasi, hingga dieselisasi menjadi beberapa contoh diksi yang sulit dicerna oleh publik awam.

Melihat fenomena tersebut, komunitas Generasi Peduli Iklim mengambil langkah taktis dengan memanfaatkan media sosial. Seperti dilansir dari Suara, kelompok ini berupaya mengemas isu lingkungan menggunakan bahasa yang lebih ringan, visual, serta relevan dengan keseharian anak muda.

Koordinator Generasi Peduli Iklim, Muhammad Asyrof Naf’il, mengungkapkan bahwa menerjemahkan isu global yang kompleks menjadi pesan yang sederhana merupakan salah satu tantangan terbesar dalam kampanye lingkungan saat ini.

“Kalau kita menerjemahkan apa yang tertulis di Paris Agreement tetapi tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami, itu akan sulit nyampenya ke masyarakat. Kita tidak bisa menggunakan bahasa langit,” ujar Asyrof.

Guna mengatasi hambatan komunikasi tersebut, komunitas ini memprioritaskan penggunaan konten visual, video pendek, hingga infografis dalam menyebarkan edukasi iklim di jagat digital.

“Kita menggunakan bahasa yang sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga memanfaatkan konten visual atau video singkat, reels, dan infografis agar isu krisis iklim ini bisa sampai ke banyak orang,” katanya.

Asyrof menilai media sosial memegang peranan krusial dalam membangun kesadaran lingkungan karena mayoritas generasi muda saat ini sangat lekat dengan platform digital. Melalui media sosial pula, Generasi Peduli Iklim gencar menyuarakan berbagai isu lingkungan lokal dari berbagai daerah.

“Postingan terbaru kami soal Pasuruan, hasil kolaborasi dengan organisasi lain, bisa menjangkau banyak views sehingga pesan-pesan yang ingin kami sampaikan dapat tersebar luas ke khalayak umum,” jelasnya.

Dalam menjalankan aktivitas edukasi digitalnya, Generasi Peduli Iklim berkomitmen untuk tidak membuat gerakan lingkungan ini terasa eksklusif ataupun menyudutkan masyarakat. Sebaliknya, mereka ingin membangun ruang belajar yang inklusif untuk semua kalangan.

“Kami mencoba membuat gerakan lingkungan terasa lebih dekat, inklusif, dan tidak menghakimi,” ujar Asyrof.

Tidak sebatas membagikan informasi di media sosial, komunitas ini juga mengajak para pengikutnya untuk terlibat langsung dalam aksi nyata di lapangan. Ragam aktivitas yang diinisiasi meliputi penanaman mangrove, aksi bersih-bersih pantai, hingga gerakan menekan penggunaan plastik sekali pakai.

Asyrof menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak akan tercipta hanya melalui unggahan di media sosial. Keterlibatan langsung secara fisik dinilai menjadi kunci utama agar publik bisa merasakan ikatan yang lebih kuat dengan alam sekitar.

“Untuk bisa sampai di tahap mengubah perilaku, tentu kita harus mengajak secara langsung. Misalnya, mengajak mereka menanam mangrove atau melakukan beach cleanup,” katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi