Google Perluas SynthID di Google I/O 2026 untuk Cek Foto AI

Google Perluas SynthID di Google I/O 2026 untuk Cek Foto AI

Google menghadirkan pembaruan besar untuk teknologi pendeteksi konten kecerdasan buatan (AI) mereka, SynthID, dalam ajang Google I/O 2026. Lewat pembaruan ini, pengguna dapat mendeteksi gambar buatan AI secara langsung melalui ekosistem Google.

Langkah ini diambil dikutip dari Medcom di tengah maraknya foto AI dan deepfake yang kian menyerupai aslinya. Google menjadikan SynthID sebagai salah satu pilar verifikasi utama untuk konten generatif.

SynthID merupakan teknologi watermark digital besutan Google DeepMind yang berfungsi menandai konten buatan AI. Sistem ini sebenarnya sudah diperkenalkan sejak 2023, namun kemampuannya kini diperluas ke lebih banyak layanan.

Berbeda dengan penanda konvensional, SynthID menyisipkan sidik jari digital tersembunyi ke dalam piksel gambar, video, audio, atau teks. Pola digital tersebut tidak kasat mata tetapi tetap terbaca oleh sistem verifikasi Google.

Google merancang teknologi ini agar tetap bertahan meski gambar mengalami penyuntingan ringan. Watermark ini tidak akan hilang walaupun konten telah melalui proses pemotongan (crop), kompresi, hingga tangkapan layar (screenshot).

Hingga saat ini, sistem SynthID telah diterapkan pada miliaran konten buatan AI. Integrasi tersebut mencakup hasil dari model generatif Google seperti Gemini, Imagen, Veo, dan Lyria.

Perluasan Akses Pengecekan Konten AI

Pada Google I/O 2026, Google mengumumkan bahwa alat pemindaian ini diintegrasikan langsung ke berbagai layanan modular. Pengguna bisa mengaksesnya lewat Google Search, Chrome, Circle to Search, Google Lens, dan Gemini.

Integrasi masif ini memangkas ketergantungan pengguna pada aplikasi pihak ketiga untuk memverifikasi keaslian foto. Proses pemeriksaan kini dapat berjalan lebih cepat langsung dari peramban atau hasil pencarian.

Google mencontohkan penggunaan fitur ini lewat fungsi Circle to Search di perangkat Android. Pengguna hanya perlu melingkari gambar dan memberikan pertanyaan terkait keaslian konten tersebut.

Sistem kemudian melacak keberadaan pola SynthID pada piksel foto. Selain itu, platform Gemini juga memfasilitasi unggahan file multimedia untuk mendeteksi indikasi rekayasa model AI Google.

Kolaborasi Standar Global dan Keterbatasan

Pengembangan SynthID kini berjalan beriringan dengan standar Content Credentials berbasis C2PA. Standar industri ini menyisipkan metadata khusus yang merekam riwayat digital serta asal-usul otentik sebuah konten.

Kendati demikian, Google menegaskan bahwa SynthID masih memiliki keterbatasan teknis. Alat ini hanya mengenali konten yang tersemat watermark SynthID atau sistem lain yang kompatibel.

Sistem ini juga berpotensi gagal mendeteksi jika gambar mengalami modifikasi ekstrem atau rekayasa berulang kali. Google memposisikan SynthID sebagai instrumen transparansi tambahan, bukan solusi mutlak untuk membendung seluruh deepfake di internet.

Artikel terkait

Rekomendasi