Kendaraan roda dua kini menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Seperti dikutip dari Medcom, hampir separuh dari total pengendara motor kini sangat bergantung pada sistem navigasi untuk menunjang produktivitas serta pendapatan harian mereka.
Abhijit Sengupta selaku General Manager for Southeast Asia and India di Here Technologies mengutarakan bahwa perhatian perusahaan terhadap segmen ini merupakan bentuk respons langsung atas kondisi mobilitas wilayah tersebut. Saat ini Asia Pasifik mendominasi 70% dari seluruh permintaan global untuk kendaraan roda dua, dengan populasi mencapai hampir 250 juta unit di Asia Tenggara.
Sistem pemetaan untuk roda dua mempunyai karakteristik yang berbeda total dengan kendaraan roda empat. Menurut Abhijit Sengupta, panduan rute sepeda motor harus mampu menyesuaikan perilaku pengendara di lapangan, seperti melewati gang sempit, rute alternatif, hingga jalur yang mustahil dilewati oleh mobil.
Kelincahan skuter di tengah kemacetan kota menuntut kalkulasi kecepatan serta Estimasi Waktu Kedatangan (ETA) secara lebih spesifik agar tetap presisi. Akurasi ini menjadi hal yang sangat krusial bagi kurir dan pekerja logistik jarak terakhir karena margin keuntungan mereka sangat bergantung pada efisiensi waktu.
Riset terbaru dari Here Technologies bertajuk Inside the Two-Wheeler Landscape in APAC: Key Trends and Rider Behaviors menunjukkan bahwa 67% pengendara di Indonesia menempatkan panduan suara turn-by-turn sebagai fitur paling utama.
Kebutuhan tersebut dipicu karena keterlambatan atau kesalahan penentuan rute akan langsung memengaruhi penghasilan para pengendara. Demi mengatasi persoalan rute yang tidak optimal atau jalur tikus yang berisiko, pihak Here Technologies menerapkan integrasi data lalu lintas real-time guna mengolah informasi kecelakaan hingga penutupan jalan secara instan.
Di samping akurasi, kepatuhan terhadap regulasi setempat juga menjadi pilar utama dalam pemanfaatan teknologi ini. Sistem navigasi ini dapat menyesuaikan rute berdasarkan aturan Ganjil-Genap di Indonesia dengan mencerminkan pelat nomor kendaraan pemakainya. Kemampuan tersebut memudahkan pengelola armada logistik skala besar dalam merancang rute sejak awal hari demi menekan koreksi manual sekaligus mendongkrak efisiensi operasional.
Faktor keselamatan berkendara tetap diposisikan sebagai prioritas utama mengingat adanya tantangan fisik ketika melihat peta di jalan. Abhijit Sengupta menegaskan bahwa peranti navigasi harus bisa membantu tanpa memecah konsentrasi pengendara dari jalanan.
"Teknologi navigasi harus bersifat membantu tanpa mengalihkan perhatian pengendara dari jalan," ujar Abhijit Sengupta.
Melalui kehadiran fitur hands-free serta Here AI Assistant, para pengguna dapat memanfaatkan perintah suara untuk memanggil petunjuk arah. Kerjasama dengan mitra strategis seperti Pioneer melalui sistem 'Pioneer Ride Connect' juga memungkinkan integrasi visual peta ke dalam layar pintar kendaraan yang dilengkapi info cuaca serta potensi bahaya real-time.
Perusahaan turut mengoptimalkan kapabilitas kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi kondisi di lapangan secara dinamis. Peta pintar ini mampu melacak rute yang kerap dihindari ataupun titik rawan kecelakaan berpatokan pada data pengguna.
Para pengendara juga dapat mengirimkan laporan langsung bila menjumpai kekeliruan batas kecepatan atau perubahan akses jalan. Data masukan tersebut akan langsung dimasukkan kembali ke dalam sistem peta untuk memperbarui rekomendasi rute bagi pengendara lainnya.
Melalui kombinasi data dari jutaan armada dan fleksibilitas platform terbuka, Here Technologies berkomitmen menyediakan infrastruktur kecerdasan lokasi yang tangguh. Abhijit Sengupta menarik kesimpulan mengenai arah pengembangan inovasi ini.
"Setiap inovasi yang dilakukan bertujuan untuk memastikan teknologi lokasi ini menjadi cahaya pemandu yang meningkatkan nilai nyata bagi mobilitas masyarakat di seluruh penjuru Indonesia," kata Abhijit Sengupta.