Tradisi menitipkan doa kepada kerabat yang hendak berangkat ke Tanah Suci telah menjadi bagian dari fenomena kultural yang mengakar kuat di Indonesia. Keberangkatan jemaah haji kerap dipandang sebagai momen spiritual sekaligus simbol sosial yang dihormati di berbagai daerah, seperti dalam budaya Madura, Betawi, Bugis, hingga Minangkabau.
Banyak orang memanfaatkan kesempatan ini untuk menitipkan berbagai permohonan, mulai dari kelancaran rezeki, jodoh, hingga kesuksesan karier. Kepercayaan ini muncul karena jemaah haji akan mendatangi tempat-tempat yang diyakini mustajab untuk dikabulkannya doa, seperti Multazam, Raudhah, dan wilayah Arafah saat pelaksanaan wukuf.
Dikutip dari Suara, fenomena ini memperlihatkan bahwa ibadah haji tidak sekadar menjadi perjalanan personal, melainkan juga memuat harapan kolektif dari keluarga serta komunitas. Selain doa, sebagian masyarakat bahkan menitipkan benda seperti batu, kerikil, atau kurma muda dari Tanah Haram yang dipercaya membawa berkah tertentu.
Para ulama menyepakati bahwa meminta bantuan doa kepada orang saleh atau individu yang sedang beribadah di tempat-tempat mulia hukumnya diperbolehkan. Tradisi ini juga didukung oleh salah satu hadis Rasulullah SAW.
"Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa pengetahuan orang itu adalah mustajab..." (HR. Muslim).
Mengenai batasan tradisi ini, Syaikh Ibn Utsaimin memberikan penegasan bahwa tindakan menitipkan doa boleh dilakukan selama batasannya wajar dan tidak memberikan beban kepada jemaah. Doa pada hakikatnya merupakan bentuk kebaikan hati atau ihsan, sehingga tidak boleh diposisikan sebagai kontrak sosial yang ditagih ke jemaah.
Etika Menitipkan Doa Agar Tidak Membebani
Menjaga kekhusyukan ibadah jemaah haji selama di Tanah Suci merupakan hal yang utama. Terdapat beberapa panduan etika yang dapat diterapkan oleh masyarakat ketika ingin menitipkan doa kepada kerabat.
Masyarakat disarankan untuk meminta doa yang bersifat umum saja, seperti permohonan kesehatan. Selain itu, penitipan doa harus didasari rasa ikhlas tanpa paksaan, dan pengingat bisa dikirimkan secara lembut melalui pesan singkat.
Sebaliknya, terdapat beberapa hal penting yang harus dihindari agar tidak mengganggu prosesi ibadah jemaah di Tanah Suci. Menghindari daftar doa yang terlalu panjang dan tidak meminta didoakan pada waktu-waktu spesifik, seperti jam 3 pagi atau saat jemaah sedang sibuk melakukan rukun haji, menjadi poin krusial.
Masyarakat juga dilarang untuk terus-menerus menagih kepastian apakah doa tersebut sudah dibacakan atau belum oleh jemaah. Hal terakhir yang perlu dihindari adalah meminta oleh-oleh dari Tanah Suci untuk dijadikan sebagai jimat.