Umat Muslim Dapat Menggabungkan Niat Puasa Tarwiyah dengan Puasa Sunnah Lain

Umat Muslim Dapat Menggabungkan Niat Puasa Tarwiyah dengan Puasa Sunnah Lain

Umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amalan sunnah selama sepuluh hari pertama bulan Zulhijah menjelang Hari Raya Idul Adha. Salah satu ibadah yang rutin dilaksanakan adalah puasa Tarwiyah yang jatuh pada tanggal 8 Zulhijah.

Pada tahun 1447 Hijriah atau 2026, puasa Tarwiyah diperkirakan jatuh pada Senin, 25 Mei 2026, seperti dikutip dari Cahaya. Momentum yang bertepatan dengan hari Senin ini memicu pertanyaan mengenai legalitas hukum menggabungkan beberapa niat puasa sunnah sekaligus.

Berdasarkan penjelasan para ulama, mayoritas ahli fiqih mengizinkan penggabungan niat dalam ibadah sunnah selama tidak bertentangan dengan syariat. Hal ini mencakup penggabungan puasa Tarwiyah dengan puasa Senin-Kamis, ayyamul bidh, ataupun puasa Daud.

Para ulama menjelaskan bahwa penyatuan niat puasa sunnah diperbolehkan karena memiliki orientasi ibadah yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam mazhab Syafiโ€™i, fenomena ini disebut dengan istilah tadakhul an-niyyat atau masuknya beberapa niat dalam satu amalan.

Melalui konsep tersebut, seorang Muslim tetap bisa mendapatkan pahala dari beberapa ibadah sunnah yang waktunya saling bertepatan. Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair memaparkan bahwa dua ibadah yang setipe dan tidak saling bertolak belakang dapat digabungkan niatnya.

Imam An-Nawawi juga memberikan analogi serupa pada ibadah bersuci. Seseorang yang menyatukan niat mandi Jumat dan mandi junub tetap sah mendapatkan pahala keduanya karena tujuan ibadahnya sejenis.

Merujuk pada buku Fikih Praktis Puasa karya Ahmad Sarwat, penggabungan puasa sunnah diperbolehkan secara umum selama tidak ada tata cara khusus yang saling bertentangan. Atas dasar itu, puasa Tarwiyah yang bertepatan dengan hari Senin dapat disatukan niatnya dengan puasa Senin.

Ketentuan Penggabungan dengan Puasa Qadha

Perdebatan ulama biasanya muncul ketika menyangkut penggabungan puasa Tarwiyah dengan puasa qadha Ramadan. Sebagian ulama mengizinkan langkah ini agar umat Muslim meraih pahala sunnah sekaligus mengganti utang puasa wajib.

Namun, sebagian ulama lain menyarankan agar puasa qadha tetap dipisahkan dari puasa sunnah demi meraih keutamaan secara sempurna. Buku Ensiklopedi Fikih Indonesia: Puasa karya Ahmad Sarwat menyebutkan bahwa mendahulukan niat qadha Ramadan jauh lebih aman karena status hukumnya wajib.

Meskipun demikian, orang yang melaksanakan puasa qadha pada hari Tarwiyah dinilai tetap berpeluang mendapatkan keberkahan dari bulan Zulhijah. Bagi yang ingin menggabungkannya dengan puasa Senin, niat untuk kedua amalan tersebut cukup dilafalkan di dalam hati.

Bacaan Niat Puasa Tarwiyah

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุตูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูŽุฑู’ูˆููŠูŽุฉูŽ ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ู„ูู‘ู„ู‘ูฐู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi taโ€˜ala.

Artinya: "Aku niat puasa Tarwiyah sunnah karena Allah Taโ€™ala."

Keutamaan Spiritual di Bulan Zulhijah

Hari Tarwiyah merupakan momen sakral ketika jemaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk persiapan puncak haji di Arafah. Buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq menegaskan sepuluh hari pertama Zulhijah merupakan waktu utama untuk memperbanyak amal saleh.

Keistimewaan paruh awal bulan ini dikuatkan oleh hadis riwayat Bukhari:

โ€œTidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Zulhijah).โ€

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Maโ€™arif menguraikan bahwa awal Zulhijah menjadi musim ibadah paling agung setelah Ramadan. Keagungan ini tercipta karena berkumpulnya rukun ibadah utama seperti shalat, puasa, sedekah, dzikir, hingga ibadah haji.

Secara spiritual, puasa Tarwiyah bermanfaat untuk menambah pahala, melatih kesabaran, serta menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Langkah penggabungan niat oleh umat Muslim menjadi cerminan tingginya semangat beribadah sepanjang tetap koridor syariat.

Artikel terkait

Rekomendasi