Persiapan menjelang Hari Raya Idul Adha sering kali memunculkan pertanyaan mengenai kebiasaan sebelum menunaikan shalat Id berjamaah. Salah satu perkara yang kerap dibahas setiap tahun adalah kebolehan mengonsumsi minuman sebelum ibadah dimulai.
Sebagian masyarakat memahami adanya anjuran tidak makan sebelum shalat Idul Adha dilaksanakan. Ketentuan mengenai konsumsi air putih, teh, kopi, atau jenis minuman lainnya berkaitan erat dengan sunnah Rasulullah SAW dalam menyambut Hari Raya Kurban.
Dilansir dari Cahaya, Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan yang berbeda saat menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Pada Hari Raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan makan terlebih dahulu, sedangkan pada Idul Adha, konsumsi makanan ditunda hingga shalat Id dan penyembelihan kurban selesai.
Secara hukum, minum sebelum shalat Idul Adha diperbolehkan dan tidak bersifat haram. Namun, ajaran sunnah menganjurkan umat Islam menahan diri dari makan dan minum sebelum shalat sebagai bentuk keteladanan terhadap kebiasaan Rasulullah SAW.
Terdapat hadis riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud dari Buraidah RA yang menyatakan:
“Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan terlebih dahulu, dan beliau tidak makan pada hari raya kurban hingga selesai shalat.”
Buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa kebiasaan Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi landasan anjuran menunda makan dan minum. Para ulama menegaskan aturan ini bersifat sunnah dan bukan kewajiban, sehingga seseorang tetap boleh minum jika haus, lemas, sakit, atau perlu minum obat.
Makna Spiritual Menahan Makan dan Minum
Anjuran menahan diri ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat yang merayakan. Buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sunnah hari raya bertujuan membangun kesiapan lahir dan batin dalam beribadah.
Sikap menahan diri sejenak menjadi simbol kesabaran, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap ibadah kurban. Sebagian ulama juga menyatakan bahwa penundaan bertujuan agar makanan pertama yang disantap setelah shalat berasal dari hewan kurban.
Perbedaan Ketentuan dengan Idul Fitri
Aturan makan sebelum shalat Idul Fitri dan Idul Adha memiliki perbedaan yang kontras. Pada Idul Fitri, hadis riwayat Bukhari mencatat Nabi Muhammad SAW biasa memakan beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tempat shalat.
Buku Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd menjelaskan kebiasaan tersebut berfungsi menegaskan berakhirnya masa puasa Ramadhan. Atas dasar itulah, berpuasa pada Hari Raya Idul Fitri hukumnya diharamkan dalam Islam.
Keabsahan Shalat Id yang Didahului Minum
Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai keabsahan ibadah jika terlanjur minum sebelum shalat Idul Adha. Para ulama menegaskan aktivitas makan atau minum sama sekali tidak membatalkan ataupun mengurangi keabsahan shalat Id.
Penjelasan dalam buku Fikih Ibadah karya Wahbah Az-Zuhaili menyebutkan bahwa meninggalkan sunnah tidak membatalkan ibadah, melainkan hanya kehilangan nilai keutamaannya. Oleh karena itu, tidak ada dosa bagi umat Islam yang minum sebelum shalat karena kondisi tertentu.
Amalan Sunnah Lain Sebelum Shalat Idul Adha
Selain menahan makan dan minum, umat Islam dianjurkan menghidupkan beberapa sunnah lain menjelang shalat Idul Adha. Salah satunya adalah memperbanyak bacaan takbir sejak malam hingga pagi hari raya untuk mengagungkan Allah SWT.
Lafaz takbir yang umum dibaca yaitu:
“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaahil Hamd.”
Buku Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah juga menganjurkan amalan mandi sebelum shalat Id agar umat datang dalam keadaan bersih. Sunnah lainnya meliputi berangkat lebih awal untuk mengisi saf depan serta berjalan kaki menuju lokasi shalat jika memungkinkan.
Esensi Pengorbanan Idul Adha
Momentum Idul Adha menjadi pengingat tentang ketakwaan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ibadah ini memiliki dimensi spiritual yang lebih luas dari sekadar ritual tahunan.
Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa ketakwaan hamba yang sampai kepada Allah SWT, bukan daging atau darah hewan kurban. Penerapan sunnah kecil seperti menahan minum menjadi bagian dari latihan pengendalian diri dan kesadaran spiritual.