Umat Islam kerap mencari tahu kepastian hukum mengenai pelaksanaan puasa sebelum Hari Raya Idul Adha, seperti dilansir dari Cahaya.
Pertanyaan tersebut sering mengemuka mengingat adanya anjuran kuat untuk melaksanakan puasa sunnah pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, khususnya puasa Tarwiyah dan Arafah.
Masyarakat perlu memahami bahwa ibadah puasa sebelum Idul Adha tidak bersifat wajib seperti halnya puasa Ramadan, melainkan berstatus sunnah sehingga dianjurkan bagi yang mampu.
Puasa Tarwiyah merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang termasuk dalam rangkaian sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan keutamaan besar.
Kesepakatan para ulama fikih menyatakan bahwa hari tersebut memiliki kesunahan khusus untuk berpuasa, sesuai dengan penjelasan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah SWT daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bahkan tidak jihad di jalan Allah? Nabi menjawab: Bahkan tidak jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun."
Hadis tersebut menjadi landasan utama bagi para ulama untuk menganjurkan umat Islam memperbanyak amal ibadah, termasuk berpuasa, pada awal bulan Dzulhijjah.
Pandangan Empat Mazhab Mengenai Puasa Tarwiyah
Para ulama dari empat mazhab memberikan penjelasan spesifik terkait pelaksanaan ibadah puasa Tarwiyah.
Mazhab Hanbali menekankan bahwa tanggal 8 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah merupakan waktu yang paling utama untuk meningkatkan amalan shaleh.
Sementara itu, Mazhab Maliki berpendapat bahwa menjalankan puasa Tarwiyah memiliki keutamaan untuk menghapus dosa-dosa pada setahun yang lalu.
Menurut Mazhab Syafi’i, ibadah puasa Tarwiyah tetap dihukumkan sunnah, baik bagi umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji maupun yang tidak.
Adapun Mazhab Hanafi memandang puasa Tarwiyah sunnah bagi orang yang tidak berhaji, sedangkan bagi jemaah haji hukumnya makruh jika berpotensi melemahkan fisik saat ibadah.
Berbagai pandangan hukum tersebut terdokumentasi dalam kitab-kitab fikih terkemuka seperti Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Nihayah Az-Zain, serta Tabyin Al-Haqaiq.
Kepastian Hukum Puasa Jelang Hari Raya Kurban
Secara ringkas, pelaksanaan puasa sebelum Idul Adha tidak bersifat wajib bagi umat Islam.
Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan amalan sunnah muth laqah yang sangat dianjurkan sebagai sarana mengoptimalkan momen terbaik di bulan Dzulhijjah.
Larangan Puasa pada Idul Adha dan Hari Tasyrik
Meskipun anjuran berpuasa sangat kuat sebelum Idul Adha, syariat Islam secara tegas mengharamkan puasa saat memasuki Hari Raya Kurban dan Hari Tasyrik.
Terdapat empat hari berturut-turut yang dilarang total untuk berpuasa oleh umat Islam.
Hari-hari terlarang tersebut meliputi tanggal 10 Dzulhijjah yang merupakan Hari Raya Idul Adha, serta tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Rangkaian hari setelah Idul Adha, yakni dari tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah, secara khusus dinamakan sebagai Hari Tasyrik.
Hikmah di Balik Larangan Puasa Hari Tasyrik
Hari Tasyrik ditetapkan sebagai waktu bagi umat Islam untuk bersukacita, makan, minum, sekaligus memperbanyak kumandang takbir dan zikir kepada Allah SWT.
Masyarakat muslim dianjurkan untuk menikmati hidangan dari daging kurban sebagai perwujudan rasa syukur atas segala nikmat, sehingga puasa dilarang pada momen ini.
Larangan ibadah puasa pada Hari Tasyrik juga berimplikasi pada pelaksanaan ibadah puasa sunnah lainnya seperti puasa Ayyamul Bidh.
Khusus pada bulan Dzulhijjah, puasa Ayyamul Bidh tidak boleh dimulai pada tanggal 13 Dzulhijjah karena statusnya yang masih tergolong Hari Tasyrik.
Umat Islam baru diperbolehkan kembali untuk menunaikan ibadah puasa sunnah tersebut mulai tanggal 14 Dzulhijjah.