Sistem navigasi burung merpati terbukti memiliki kecanggihan yang menyerupai teknologi global positioning system atau GPS modern tanpa memerlukan bantuan satelit. Kemampuan alami ini didukung oleh organ tubuh mereka sendiri yang berfungsi sebagai penunjuk jalan.
Seperti dilansir dari Detik iNET, para peneliti melaporkan dalam jurnal Science pada 28 Mei bahwa sel darah putih di hati merpati mengakumulasi zat besi dan bekerja seperti kompas internal. Fitur biologis ini membantu merpati menemukan jalan pulang sekalipun gumpalan awan menghalangi sinar matahari.
Meskipun komunitas ilmiah menyepakati adanya pemanfaatan medan magnet Bumi oleh sejumlah hewan untuk bermigrasi, mekanisme pastinya baru mulai terungkap. Kajian terbaru ini menyajikan penjelasan ilmiah yang tergolong mengejutkan.
Selama beberapa dekade, perdebatan sengit terjadi di kalangan ilmuwan mengenai metode burung merasakan medan magnet untuk bernavigasi. Salah satu teori yang sempat populer berfokus pada peran protein khusus di dalam mata mereka.
Namun, pembuktian mengenai keterlibatan efek kuantum tersebut masih belum menemui titik terang. Argumen ini diperlemah oleh fakta bahwa satwa lain yang peka terhadap magnetisme Bumi, seperti kelelawar dan hiu, tidak memiliki protein tersebut.
Titik terang mulai muncul saat ahli biologi sel Clivia Lisowski dari Universitas Bonn melakukan pemeriksaan magnetik terhadap organ tubuh merpati. Pengujian yang mencakup paruh, mata, limpa, dan hati menunjukkan bahwa hanya makrofag di hati yang menempel pada kolom magnetik.
Di dalam organ hati tersebut, tim ilmuwan mendeteksi jutaan sel darah putih yang kaya akan kandungan zat besi di dekat jaringan saraf. Struktur ini mengindikasikan bahwa sel-sel tersebut mengirimkan sinyal arah ke otak berdasarkan medan magnet Bumi.
Makrofag sendiri merupakan sel darah putih berukuran besar dalam sistem imun yang bertugas mengeliminasi kuman, sel mati, dan partikel asing. Gagasan untuk meneliti makrofag diinisiasi lebih dari sepuluh tahun lalu oleh ahli ornitologi Martin Wikelski dari Institut Perilaku Hewan Max Planck dan ahli imunologi Christian Kurts dari Universitas Bonn.
Uji Coba Terbang pada Hari Mendung
Tim peneliti sengaja memantau kondisi cuaca untuk meluncurkan pengujian pada hari-hari yang mendung. Langkah ini krusial karena merpati memprioritaskan sinar matahari sebagai pemandu utama dan hanya mengandalkan medan magnet sebagai opsi terakhir.
"Sangat penting agar burung-burung itu tidak tahu di mana posisi matahari," kata Kurts.
Sebelum pelepasan, para peneliti menghilangkan makrofag pada separuh dari total 34 ekor merpati yang menjadi objek eksperimen. Seluruh burung kemudian dibawa ke lokasi berjarak 19 kilometer dan dilepaskan setelah dipasangi alat pelacak khusus.
Kelompok merpati dengan makrofag utuh berhasil kembali ke sarang dalam durasi sekitar 70 menit. Sebaliknya, merpati yang kekurangan makrofag terbang tanpa arah yang jelas dan baru tiba di rumah keesokan harinya saat matahari terbit.
Fenomena berbeda terlihat ketika pengujian dilakukan dalam kondisi cuaca yang cerah. Kelompok merpati yang makrofagnya sudah dihilangkan ternyata tetap mampu terbang langsung menuju arah pulang dengan memanfaatkan panduan visual matahari.
Terkait hasil temuan ini, ahli neuroetologi John Phillips dari Virginia Tech di Blacksburg memberikan pandangan objektifnya sebagai pihak luar. Menurutnya, hasil eksperimen ini memiliki metodologi yang solid.
"Pasti akan ada orang yang tidak percaya. Tetapi, dirinya menyampaikan, penelitian ini dilakukan dengan sangat baik, sehingga bahkan orang yang belum percaya pun tidak dapat mengabaikannya," ujar Phillips.