Platform promosi budaya Indonesia Pride World Tour 2026 memperluas jangkauan pasar fashion lokal melalui rangkaian roadshow internasional di berbagai pusat mode dunia pada Selasa (5/5/2026). Dilansir dari Lifestyle, ajang ini memboyong koleksi unggulan desainer dan pelaku UMKM untuk memperkuat posisi kreativitas tanah air di kancah global.
Memasuki tahun keempat, program ini dijadwalkan menyambangi kota-kota besar seperti Melbourne, Shanghai, dan Hong Kong. Penyelenggara juga tengah menyiapkan rencana ekspansi strategis ke wilayah Moscow serta Jepang untuk pelaksanaan pada tahun mendatang.
Founder Indonesia Pride, Rama Budisetyo menjelaskan bahwa skema utama kegiatan ini difokuskan pada upaya membawa langsung produk kreatif Indonesia ke hadapan publik internasional melalui format tur berkelanjutan.
"Konsep kami memang roadshow, nantinya ada perjalanan ke Hongkong, Australia, insyaAllah tahun depan kami akan ke Moscow dan ada undangan ke Jepang juga," jelas Rama, Founder Indonesia Pride.
Proses seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan standar kualitas peserta yang terlibat dalam perjalanan tersebut. Rama menegaskan bahwa kurasi tidak hanya terbatas pada wastra batik, melainkan mencakup spektrum luas karya fashion yang merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia secara menyeluruh.
"Kami membawa atau mengkurasi beberapa desainer yang memang segmennya Indonesia Pride. Jadi bukan hanya batik, tapi kebaya, ataupun karya-karya lainnya hasil dari desainer Indonesia," ujarnya Rama, Founder Indonesia Pride.
Sejumlah jenama dan desainer kenamaan telah mengonfirmasi partisipasi mereka dalam tur tahun ini. Beberapa nama yang dipastikan ikut serta meliputi Denny Wirawan, Je Sui Flirt oleh Indah Kalalo & Fabiola Aisha, Natasha Robert, hingga Titi Songket.
"Sekarang sudah ada beberapa desainer dan UMKM, seperti Denny Wirawan, Je Sui Flirt by Indah Kalalo & Fabiola Aisha, Natasha Robert, Titi Songket, dan masih banyak lagi yang akan di bawa ke roadshow kami," kata Rama, Founder Indonesia Pride.
Australia menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap produk Indonesia selama tiga tahun terakhir. Penyelenggara menilai perbedaan nilai tukar mata uang justru menjadi keunggulan kompetitif bagi daya saing harga produk lokal di pasar tersebut.
"Alhamdulillah sudah berjalan 3 tahun, kami berhasil menjembatani antara UMKM atau desainer Indonesia sudah bawa ke Australia," ungkap Rama, Founder Indonesia Pride.
Dalam mendukung operasional desainer, Indonesia Pride menerapkan berbagai mekanisme kerja sama mulai dari konsinyasi hingga fasilitasi institusional. Tingkat daya beli yang tinggi di luar negeri menjadi peluang besar yang dimanfaatkan untuk mendongkrak omzet pelaku industri kreatif.
"Barang yang disini harganya dianggap mahal, tapi di sana tidak terlalu mahal karena perbedaan mata uang. Alhamdulillah kemampuan daya beli Australia lebih tinggi," ujarnya Rama, Founder Indonesia Pride.
Pelaksanaan tahun 2026 ini mengusung tema besar untuk meningkatkan level produk nasional melalui penggabungan format peragaan busana dan pameran dagang. Hal tersebut ditujukan agar para peserta dapat berinteraksi langsung dengan pembeli potensial di luar negeri.
"Kami ingin menjadikan ini sebagai platform yang tepat sasaran bagi UMKM dan desainer, serta menjadi jembatan nyata agar karya anak bangsa semakin dikenal di pasar internasional," tutur Rama, Founder Indonesia Pride.
Rangkaian acara Indonesia Pride World Tour 2026 terus memosisikan diri sebagai instrumen diplomasi budaya melalui jalur industri fashion. Fokus saat ini tertuju pada persiapan teknis untuk pemberangkatan menuju Melbourne dan Shanghai sebagai destinasi awal tur.