Sistem prediksi cuaca di Indonesia dinilai menunjukkan perkembangan pesat seiring dengan bergabungnya negara ini ke dalam International Space Environment Service (ISES). Keanggotaan dalam kelompok bergengsi global tersebut menjadi bukti kemajuan teknologi pemantauan antariksa nasional.
Dilansir dari Detik iNET, Peneliti Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tiar Dani, menjelaskan posisi strategis Indonesia dalam organisasi tersebut. Menurutnya, Indonesia akan berperan aktif dalam pengembangan infrastruktur data global.
"Tadi saya sudah sampaikan Indonesia sebagai salah satu anggota ISES dan nanti ISES akan membangun anggota G-SWxWS," ujar Tiar Dani.
G-SWxWS merupakan sistem prakiraan cuaca antariksa yang mencakup wilayah Eropa, Asia, dan Rusia atau yang dikategorikan sebagai Area G. Dalam struktur ini, terdapat pembagian wilayah sektor yang meliputi Pasifik, Asia-Australia, Eropa, Afrika, serta Amerika.
"Nah, Indonesia masuk ke dalam Asia-Australia sebagai center," jelas Dani dalam acara LINEAR - Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa 'Automating Space Weather Services with Agentic AI' pada Rabu (13/5/2026).
Dani mengungkapkan bahwa tidak semua negara di kawasan Asia Tenggara tergabung dalam keanggotaan ISES. Lebih lanjut, dari negara yang sudah bergabung pun, belum tentu menyandang status sebagai Regional Warning Center (RWC).
Berdasarkan informasi terakhir, Thailand tercatat telah bergabung dengan ISES namun belum menjadi bagian dari RWC. Dalam struktur ISES sendiri, terdapat tiga klasifikasi yaitu RWC, Associate Warning Centers (AWCs), dan Collaborative Expert Center (CEC).
"Kalau Collaborative, Thailand itu hanya di ionosphere saja. Kalau bukan RWC bukan belum bisa memberikan tiga informasi itu tadi: aktivitas matahari, ionosphere, dan geomagnetic," terang Dani.
Terkait negara tetangga lainnya, Malaysia dilaporkan memiliki ketertarikan untuk mempelajari sistem Space Weather Information and Forecasting Services (SWIFTs) yang dimiliki Indonesia. Namun, realisasi kerja sama tersebut masih menunggu kabar lebih lanjut.
"Kalau Malaysia sendiri, saya sempat dapat informasi bahwa Malaysia ingin berkunjung ke Indonesia mempelajari soal SWIFTs ini, cuma sampai sekarang belum ada informasi lebih lanjut. Memang didorong untuk beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, itu segera masuk ke ISES," kata Dani.