Indosat Business Ungkap Lonjakan Penipuan Berbasis AI Hingga 1550 Persen

Indosat Business Ungkap Lonjakan Penipuan Berbasis AI Hingga 1550 Persen

Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business meluncurkan whitepaper tentang kerentanan sistem keamanan digital perusahaan di tengah masifnya ancaman kecerdasan buatan atau AI di Jakarta pada Senin (11/5/2026).

Laporan bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience tersebut menyoroti fenomena kesenjangan ketahanan atau resilience gap pada banyak organisasi di Indonesia saat ini. Dilansir dari Detik iNET, kondisi tersebut dipicu oleh laju digitalisasi yang tidak diimbangi dengan kesiapan sistem pertahanan siber.

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah menjelaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi elemen krusial bagi stabilitas ekonomi digital nasional. Ia menekankan perlunya integrasi sistem keamanan yang adaptif untuk menangani modus kejahatan modern seperti ransomware dan serangan berbasis identitas.

"Cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis," ujar Muhammad Danny Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison.

Penguatan sistem monitoring dinilai sangat mendesak seiring berlakunya Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mewajibkan perusahaan melaporkan insiden kebocoran data dalam kurun waktu 72 jam. Muhammad Danny Buldansyah menambahkan bahwa perusahaan kini memerlukan lebih dari sekadar konektivitas standar.

Pakar keamanan siber Charles Lim yang turut menyusun laporan tersebut memaparkan bahwa teknologi deepfake dan AI-enabled fraud telah membuat deteksi ancaman menjadi semakin sulit dilakukan secara konvensional.

"Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan," ucap Charles Lim, Pakar Keamanan Siber.

Data dalam whitepaper tersebut menunjukkan lonjakan drastis penipuan terkait AI hingga 1.550 persen pada sektor teknologi finansial (fintech) di Indonesia. Modus kejahatan yang paling banyak ditemukan mencakup penggunaan identitas palsu melalui peniruan suara dan wajah menggunakan AI.

Selain ancaman kecerdasan buatan, serangan ransomware tetap menjadi risiko besar setelah sebelumnya melumpuhkan lebih dari 200 layanan publik pada pusat data nasional tahun 2024. Sementara itu, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 mencatat hanya 11 persen organisasi di tanah air yang sepenuhnya siap menghadapi serangan siber tingkat lanjut.

Indosat Business memperkirakan rata-rata kerugian finansial akibat kebocoran data di Indonesia mencapai angka Rp15 miliar per insiden. Sebagai solusi, laporan ini merekomendasikan penerapan strategi Zero Trust Architecture serta penguatan Human Firewall di berbagai sektor strategis mulai dari industri manufaktur hingga pemerintahan.

Artikel terkait

Rekomendasi