Insinyur Google Ditangkap Akibat Penyalahgunaan Data Internal Perusahaan

Insinyur Google Ditangkap Akibat Penyalahgunaan Data Internal Perusahaan

Seorang insinyur perangkat lunak Google ditangkap oleh otoritas Amerika Serikat setelah diduga menyalahgunakan data internal perusahaan untuk melakukan perdagangan orang dalam melalui platform pasar prediksi Polymarket. Pria bernama Michele Spagnuolo tersebut memanfaatkan informasi rahasia yang belum dipublikasikan untuk meraup keuntungan pribadi dari taruhan daring.

Dilansir dari Tekno, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyatakan bahwa Spagnuolo menggunakan data pencarian Google untuk memasang taruhan terkait tokoh yang paling banyak dicari sepanjang tahun 2025. Melalui aksi tersebut, pria berkewarganegaraan Italia yang tinggal di Swiss ini berhasil mengantongi keuntungan sebesar 1,2 juta dollar AS atau sekitar Rp 20,2 miliar.

Dalam dokumen tuntutan di pengadilan federal Manhattan, New York, jaksa mengungkapkan bahwa pegawai yang bergabung sejak 2014 itu menggunakan akun anonim bernama "AlphaRaccoon". Salah satu taruhannya dilakukan pada November 2025 untuk musisi D4vd yang tren pencariannya melonjak tajam secara internal setelah sang artis terjerat kasus hukum, sebelum Google merilis daftar resmi pada Desember 2025.

Pihak Google menegaskan bahwa akses materi internal untuk keperluan taruhan merupakan bentuk pelanggaran berat. Perusahaan kini menonaktifkan sementara insinyur berusia 36 tahun tersebut dan bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini.

"Pegawai tersebut mengakses materi internal menggunakan tools yang tersedia untuk semua karyawan, tetapi penggunaan informasi rahasia untuk taruhan merupakan pelanggaran serius terhadap kebijakan kami," kata juru bicara Google.

Manajemen Polymarket menyatakan bahwa mereka turut membantu jalannya investigasi terhadap aktivitas akun milik Spagnuolo tersebut. Platform yang berdiri sejak 2020 ini mengeklaim sebagai pasar prediksi pertama yang berhasil membantu memicu dakwaan perdagangan orang dalam di Amerika Serikat.

Aparat hukum memaparkan bahwa pelaku sempat berupaya mengaburkan jejak transaksi kriptonya dengan layanan privasi tambahan. Spagnuolo juga kedapatan mengubah nama akun miliknya setelah para pengguna di media sosial X dan Discord mulai mencurigai adanya keterlibatan orang dalam Google.

Artikel terkait

Rekomendasi