Investasi pada teknologi sedot karbon atau Direct Air Capture (DAC) dinilai jauh lebih mahal dibandingkan dengan pemanfaatan energi terbarukan untuk menekan emisi. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Communication Sustainability sebagaimana dikutip dari Lestari.
Para peneliti mengungkapkan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga angin atau surya di hampir seluruh wilayah Amerika Serikat hingga 2050 memberikan manfaat lebih besar. Keuntungan tersebut mencakup perbaikan kondisi iklim serta kesehatan masyarakat yang lebih signifikan daripada teknologi DAC.
Penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan membandingkan teknologi DAC secara langsung terhadap energi terbarukan yang dibangun dengan alokasi anggaran serupa. Sebelumnya, penilaian DAC seringkali hanya berfokus pada volume karbon yang berhasil diserap mesin tersebut.
"Penelitian kami menekankan bahwa sekadar menjadi 'negatif karbon' saja tidak cukup untuk membuat teknologi penyedot karbon (DAC) menjadi investasi yang menguntungkan," ujar Dr. Yannai Kashtan, Ilmuwan Kualitas Udara di PSE Healthy Energy.
Analisis ini melibatkan simulasi perbandingan manfaat kesehatan dan iklim antara DAC, panel surya skala besar, serta kincir angin darat di 22 wilayah. Para ahli menguji empat skenario teknologi penyedot karbon untuk mendapatkan data yang komprehensif.
Skenario awal menggunakan performa saat ini yang membutuhkan sekitar 5.500 kWh energi dengan biaya 1.000 dolar AS per ton karbon. Skenario ambisius memproyeksikan penurunan kebutuhan energi menjadi 1.500 kWh dengan biaya 500 dolar AS per ton.
Terdapat pula skenario terobosan besar yang mengasumsikan kebutuhan energi hanya 800 kWh dengan biaya 100 dolar AS per ton karbon. Namun, hasil perbandingan tetap menunjukkan bahwa energi terbarukan jauh lebih menguntungkan meski DAC mencapai tingkat kecanggihan tersebut.
Penggunaan dana untuk energi bersih terbukti memberikan dampak lingkungan dan kesehatan yang berkali-kali lipat lebih tinggi. Mesin penyedot karbon saat ini bahkan ditemukan mengeluarkan lebih banyak polusi daripada yang dibersihkan karena beban listrik yang sangat besar.
"Tujuannya agar uang yang kita pakai untuk memperbaiki iklim memberikan hasil yang maksimal, namun dengan efek samping yang sesedikit mungkin," tutur Dr. Jonathan J. Buonocore dari Boston University School of Public Health.
Pengoperasian mesin DAC yang terhubung ke jaringan listrik fosil berisiko memicu polusi baru seperti sulfur dioksida dan debu halus. Sebaliknya, energi terbarukan secara konsisten memberikan dampak positif bagi kesehatan warga lokal di setiap wilayah pengujian.
Meski demikian, para peneliti mencatat bahwa teknologi DAC tetap memiliki kegunaan di masa depan. Mesin ini dapat dimanfaatkan untuk membersihkan sisa-sisanya karbon lama di atmosfer setelah polusi saat ini berhasil dikurangi secara signifikan.