Di antara deretan ruko tua bercat kusam dan lorong-lorong sempit kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, lembaran sejarah Indonesia tersimpan dalam bentuk yang tak biasa.
Ada uang kertas lusuh, koin logam kusam, hingga pecahan rupiah yang sudah puluhan tahun hilang dari peredaran. Di tengah lalu lalang pejalan kaki yang sibuk mencari pakaian, tekstil, hingga perlengkapan rumah tangga, sebuah lapak sederhana beralas meja kayu tampak dipenuhi lembaran uang lawas dari berbagai era. Lembaran rupiah lama disusun rapi dalam plastik transparan membentuk dinding pajangan kecil yang mencuri perhatian orang-orang yang melintas.
Di situlah Baharu (60) duduk menjaga lapaknya. Sesekali ia merapikan uang yang berserakan, lalu melayani pengunjung yang berhenti sekadar melihat atau bertanya harga koleksi. Tumpukan koin kuno memenuhi wadah plastik bening di bagian depan meja. Beberapa tampak kusam dimakan usia, sementara lainnya masih memperlihatkan angka nominal dan lambang negara dengan cukup jelas. Di sisi lain, uang asing dari Vietnam, China, hingga Kamboja disusun terpisah dalam plastik kecil. Suasana itu membuat lapak Baharu lebih menyerupai museum kecil ketimbang tempat jual beli biasa.
"Kalau yang paling langka itu uang Belanda. Susah dapetnya" ujar Baharu, Pedagang uang lama.
Album itu sudah tampak usang di bagian sudut. Namun, halaman-halamannya penuh gambar uang lama, tahun terbit, hingga daftar emisi dari berbagai periode. Sesekali ia membuka halaman tertentu untuk menunjukkan pecahan lawas kepada calon pembeli.
"Ini dari tahun 1940" kata Baharu, Pedagang uang lama.
Di antara toko pakaian, kios sepatu, dan bangunan lama peninggalan kolonial, perdagangan uang kuno tumbuh sebagai ekosistem kecil yang bertahan di tengah modernisasi kota. Baharu mengaku telah berjualan di Pasar Baru sejak 1984. Namun khusus uang kuno, ia mulai menekuninya sekitar 15 tahun terakhir. Awalnya, ketertarikan itu muncul dari kegemarannya terhadap sejarah.
"Saya sebenarnya awal senang aja. Senang sama sejarah" kata Baharu, Pedagang uang lama.
Dari hobi itu, Baharu mulai membeli uang lama dari orang-orang yang datang menjual koleksi keluarga mereka. Banyak di antaranya ditemukan kembali setelah tersimpan bertahun-tahun di lemari rumah.
"Orang yang jual biasanya dari orang tua meninggal, uang disimpan di lemari" ujar Baharu, Pedagang uang lama.
Di lapaknya, uang kuno tidak hanya diperlakukan sebagai barang dagangan. Setiap lembar menyimpan cerita tentang masa ketika uang itu pernah digunakan masyarakat Indonesia. Ada pecahan era Orde Lama, uang peninggalan Belanda, hingga uang keluaran 1998 yang kini mulai diburu kolektor muda.
"Kalau kondisi bagus ya mahal. Kalau jelek ya murah" kata Baharu, Pedagang uang lama.
Ia mengatakan, harga uang kuno sangat ditentukan kondisi fisik, kelangkaan, serta tahun emisi. Beberapa uang lama dijual mulai Rp 5.000 hingga puluhan juta rupiah.
"Kertas ada yang Rp 25 juta, Rp 50 juta" ujar Baharu, Pedagang uang lama.
Namun, sebagian besar koleksi yang dipajang di lapaknya justru dijual dengan harga relatif terjangkau agar bisa dibeli masyarakat umum.
"Yang ini Rp 5.000, ini Rp 15.000" kata Baharu, Pedagang uang lama.
Bagi sebagian pembeli, uang itu dibeli bukan untuk investasi, melainkan nostalgia. Beberapa pengunjung tampak berhenti cukup lama hanya untuk melihat uang yang pernah mereka gunakan semasa kecil. Ada yang tersenyum saat menemukan pecahan seribu bergambar hewan, ada pula yang memotret uang lama sebelum pergi.
"Anak muda sekarang beli buat kawinan, hantaran" ujar Baharu, Pedagang uang lama.
Dari Kolektor hingga Nostalgia Anak Muda
Di lantai 3 Gedung Harco Pasar Baru, suasana serupa terlihat di kios milik Aryo (40). Dinding kios kecilnya dipenuhi uang kertas berbagai negara yang disusun rapi dalam plastik pelindung. Di etalase kaca, beberapa koleksi bahkan sudah memiliki sertifikat penilaian kolektor. Ada pula set koin “Republik Indonesia 1945–2016” yang dipajang dalam bingkai khusus.
Aryo mengaku sudah sekitar 15 tahun berjualan uang kuno. Menurut dia, pembeli datang dari beragam kalangan.
"Ada kolektor, pelajar, sampai yang cuma buat kenang-kenangan" kata Aryo, Pedagang uang kuno.
Berbeda dengan Baharu yang lebih fokus pada uang Indonesia lawas, Aryo juga menjual uang asing dan koleksi modern.
"Kalau saya campur-campur. Enggak fokus Indonesia" ujar Aryo, Pedagang uang kuno.
Menurut Aryo, tren koleksi uang kini juga berubah mengikuti perkembangan digital. Banyak pembeli mengenal uang kuno dari media sosial atau marketplace sebelum datang langsung ke Pasar Baru. Karena itu, sertifikat koleksi menjadi penting untuk meningkatkan kepercayaan pembeli, terutama dalam transaksi online.
"Kalau sudah ada sertifikat, orang tahu nilainya" ujar Aryo, Pedagang uang kuno.
Aryo mengatakan, uang kuno kini tidak hanya dicari kolektor senior. Anak muda juga mulai tertarik karena desain uang lama dianggap unik dan artistik.
"Lebih ke hobi ya. Hobi enggak nyangkut usia" kata Aryo, Pedagang uang kuno.
Beberapa pembeli bahkan mencari nomor seri unik untuk dijadikan koleksi pribadi atau hadiah. Fenomena itu juga dirasakan Nana (45), pedagang uang kuno lain di Harco Pasar Baru. Di kiosnya, deretan uang Indonesia keluaran lama tersusun rapi dalam album bertuliskan “Money Collection”. Mulai dari emisi tahun 1958 hingga uang pendudukan Jepang tersimpan dalam plastik pelindung.
"Orang sekarang penginnya yang unik dan beda dari yang lain" kata Nana, Pedagang uang kuno.
Menurut dia, banyak anak muda membeli uang kuno karena tertarik desain vintage dan nilai estetikanya.
"Kadang mereka enggak terlalu ngerti detail uangnya, tapi suka lihat bentuk dan desainnya" ujar Nana, Pedagang uang kuno.
Harga koleksi di kios Nana bervariasi, mulai dari Rp 5.000 hingga ratusan ribu rupiah tergantung kondisi dan kelangkaan. Nana mengatakan, usaha uang kuno sangat mengandalkan jaringan dan kepercayaan antar-pedagang maupun kolektor.
"Di bisnis begini kepercayaan penting" ujar Nana, Pedagang uang kuno.
Meski demikian, risiko penipuan tetap ada.
"Pernah orang minta barang dikirim dulu, habis itu hilang" kata Nana, Pedagang uang kuno.
Pasar Baru dan Museum Informal Sejarah Rupiah
Di tengah dominasi transaksi digital dan penggunaan uang elektronik, keberadaan pedagang uang kuno di Pasar Baru menghadirkan ruang nostalgia yang sulit digantikan teknologi. Lembaran rupiah lawas itu menjadi pengingat bahwa uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan juga penanda zaman. Dari desain pahlawan, gambar fauna, hingga warna khas tiap era, setiap uang memotret wajah Indonesia pada masanya.
Kolektor uang kuno Andika (32) mengatakan, dirinya mulai tertarik mengoleksi uang lama sejak 2019.
"Awalnya cuma senang lihat desain uang zaman dulu" ujar Andika, Kolektor uang kuno.
Menurut dia, uang lama memiliki daya tarik visual yang berbeda dibanding uang modern saat ini. Kini, hobinya berkembang menjadi aktivitas jual beli online. Ia kerap mencari stok dari pedagang Pasar Baru atau komunitas kolektor.
"Kalau datang langsung lebih seru karena bisa ngobrol sama pedagang atau kolektor lain" ujar Andika, Kolektor uang kuno.
Bagi Andika, pengalaman berburu uang kuno di Pasar Baru tidak bisa digantikan transaksi online. Hal serupa disampaikan kolektor lain, Rendy Prakoso (34), yang mulai mengoleksi uang lama sejak 2012. Ketertarikan muncul dari kebiasaan melihat simpanan uang kuno milik kakeknya.
"Awalnya cuma simpan satu dua lembar karena suka desainnya" ujar Rendy, Kolektor uang kuno.
Kini ia memiliki ratusan koleksi uang dan koin dari berbagai periode Indonesia. Menurut dia, uang lama memiliki nilai nostalgia yang kuat karena merekam perjalanan sejarah bangsa.
"Indonesia pernah punya uang model begini, gambarnya beda-beda" kata Rendy, Kolektor uang kuno.
Rendy menilai keberadaan pedagang uang kuno di Pasar Baru penting karena menjadi tempat bertemunya sesama penghobi dan ruang belajar sejarah secara informal.
"Bukan cuma soal nominal, tapi perjalanan sejarah Indonesia" ujar Rendy, Kolektor uang kuno.
Nilainya Ditentukan Kelangkaan dan Sejarah
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, uang kuno memang tidak lagi memiliki fungsi ekonomi sebagai alat tukar yang sah. Namun tetap memiliki nilai karena faktor kelangkaan, sejarah, dan daya tarik koleksi.
"Secara ekonomi, uang kuno memang sudah tidak memiliki fungsi sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi tetap memiliki nilai ekonomi karena unsur kelangkaan, sejarah, dan collectible value" kata Rizal, Pengamat ekonomi.
Menurut Rizal, harga uang kuno di pasar bukan lagi ditentukan oleh angka nominalnya, melainkan oleh kelangkaan dan nilai historis yang melekat. Ia mencontohkan, pada sejumlah platform lelang internasional, uang kuno tertentu dapat dihargai sangat tinggi karena jumlahnya terbatas dan permintaan kolektor meningkat.
"Bahkan di beberapa platform lelang internasional, uang kuno tertentu bisa dihargai puluhan hingga ratusan juta rupiah karena jumlahnya sangat terbatas dan permintaan kolektor tinggi" kata Rizal, Pengamat ekonomi.
Rizal menjelaskan, perbedaan harga uang kuno bisa sangat mencolok. Ada uang lawas yang hanya dihargai puluhan ribu rupiah, tetapi ada pula yang melonjak hingga puluhan juta rupiah. Hal itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari tingkat kelangkaan, kondisi fisik, tahun emisi, jumlah cetakan, hingga nilai historis.
"Perbedaan harga uang kuno sangat ditentukan oleh faktor rarity, kondisi fisik (grade), tahun emisi, jumlah cetakan, hingga nilai historisnya" ujar Rizal, Pengamat ekonomi.
Ia menambahkan, uang yang masih dalam kondisi sangat baik atau belum pernah beredar (uncirculated), termasuk uang yang mengalami kesalahan cetak (error note), umumnya dihargai lebih tinggi. Dalam logika ekonomi koleksi, mekanisme permintaan dan penawaran tetap berlaku. Ketika barang semakin langka, sementara peminatnya meningkat, harga pun terdorong naik.
"Semakin terbatas suplai sementara permintaan kolektor meningkat, maka valuasinya bisa melonjak sangat tinggi meskipun nilai nominal aslinya kecil" kata Rizal, Pengamat ekonomi.
Rizal menilai pasar uang kuno dapat dikategorikan sebagai bagian dari alternative asset market, meskipun skalanya masih terbatas dan didorong komunitas kolektor. Menurut dia, pola transaksi di pasar uang kuno memiliki kemiripan dengan pasar seni, jam tangan mewah, atau barang antik, yang nilainya lebih banyak ditentukan oleh aspek psikologis dan prestise dibanding fundamental ekonomi.
"Polanya mirip seperti pasar karya seni, jam mewah, atau barang antik, di mana transaksi lebih banyak didorong faktor psikologis, eksklusivitas, dan prestise" ucap Rizal, Pengamat ekonomi.
Karena itu, ia menyebut uang kuno lebih tepat dipahami sebagai bagian dari hobby economy yang mulai berkembang menjadi alternatif investasi koleksi.
"Pasar ini lebih tepat disebut hobby economy yang mulai berkembang menjadi alternatif investasi koleksi" kata Rizal, Pengamat ekonomi.
Bukan Sekadar Transaksi, tetapi Ruang Sosial
Sementara itu, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat memandang fenomena pasar numismatik bukan hanya soal jual-beli, tetapi juga ruang sosial yang membentuk jaringan komunitas.
"Pasar numismatik ini dapat dilihat bukan hanya sebagai ruang transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk jaringan komunitas, identitas, dan solidaritas antarindividu" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Menurut dia, para pedagang dan kolektor uang kuno membangun hubungan sosial melalui interaksi rutin dan pertukaran pengetahuan, mulai dari sejarah uang, nilai, hingga persebaran seri. Ia menilai, pasar numismatik menjadi arena sosial tempat seseorang memperoleh pengakuan status sebagai kolektor, ahli, atau “pemburu sejarah”.
"Pasar numismatik menjadi arena di mana seseorang memperoleh identitas sosial sebagai kolektor, ahli, atau pemburu sejarah" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Dalam perspektif sosiologi, Rakhmat menekankan bahwa nilai suatu benda tidak hanya ditentukan fungsi praktisnya, tetapi juga makna sosial yang dilekatkan masyarakat. Ia menyebut, uang kuno telah bergeser dari alat tukar menjadi simbol sejarah, nostalgia, memori, hingga prestise.
"Pergeseran nilai uang kuno dari alat tukar menjadi simbol sejarah, nostalgia, memori, dan prestis sosial dapat dijelaskan melalui konsep konstruksi sosial atas nilai" ujar Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Rakhmat mengatakan, masyarakat kini memandang uang lama sebagai artefak budaya yang merepresentasikan masa tertentu, tokoh sejarah, bahkan identitas nasional. Rakhmat juga menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap uang kuno. Hal ini menunjukkan perubahan pola konsumsi budaya di era modern.
"Generasi muda tidak hanya mencari barang berdasarkan fungsi, tetapi juga berdasarkan makna, estetika, dan nilai simboliknya" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Ia menilai koleksi uang kuno kini dipandang sebagai cara anak muda membangun identitas unik di tengah budaya digital yang serba masif dan seragam. Fenomena uang kuno sebagai mahar pernikahan juga disebut Rakhmat sebagai bentuk simbolisasi nilai dalam budaya masyarakat. Ia mengatakan, mahar tidak hanya dipandang dari nilai ekonomi, tetapi juga pesan filosofis yang terkandung di dalamnya.
"Uang kuno dianggap memiliki makna keabadian, perjuangan, dan penghargaan terhadap masa lalu sehingga memberi kesan lebih eksklusif, estetik, dan personal dalam ritual pernikahan" kata Rakhmat, Sosiolog UNJ.
Nostalgia, Identitas, dan Rasa Memiliki Sejarah
Psikolog Talissa Carmelia mengatakan, ketertarikan seseorang terhadap benda koleksi seperti uang kuno sering kali berkaitan dengan nostalgia sejarah atau historical nostalgia. Menurut Talissa, seseorang bisa merasa memiliki keterikatan emosional dengan suatu masa, bahkan meski tidak pernah hidup pada era tersebut.
"Barang tersebut memiliki nilai emosional bagi kolektor" kata Talissa, Psikolog.
Ia menjelaskan proses mencari dan merawat barang kuno juga memberi rasa puas tersendiri bagi kolektor.
"Proses mencari barang kuno dan antik bisa menjadi proses yang memuaskan dan berarti" ujarnya Talissa, Psikolog.
Selain itu, banyak kolektor merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga peninggalan sejarah. Talissa menilai aktivitas mengoleksi juga dapat memberikan rasa aman dan stabilitas psikologis di tengah perubahan zaman yang cepat.
"Mengoleksi bisa menjadi salah satu cara memberikan rasa aman dan stabilitas" tutur Talissa, Psikolog.