CEO Nvidia Jensen Huang mengkritik keras fenomena pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai perusahaan yang menggunakan alasan perkembangan kecerdasan buatan atau AI, dalam sebuah wawancara dengan CNA baru-baru ini.
Pernyataan tersebut dilansir dari Detik iNET yang mengutip Asia One, di mana salah satu orang terkaya di dunia itu menilai bahwa para pemimpin perusahaan telah menciptakan narasi keliru terkait efisiensi teknologi.
"Bagaimana mungkin AI baru menjadi produktif dan berguna enam bulan yang lalu, tapi entah bagaimana mereka sudah mem-PHK orang sejak dua tahun lalu dengan alasan AI? Itu sama sekali tidak masuk akal," tegas Huang dalam wawancara dengan CNA.
Huang juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi ini sebagai dalih pengurangan staf merupakan tindakan yang menunjukkan kurangnya tanggung jawab dari pihak manajemen perusahaan.
"Anda takkan kehilangan pekerjaan karena AI, Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang yang mempelajari AI lebih baik dari Anda," ucap Huang.
Ia mendorong agar masyarakat tidak perlu merasa takut, melainkan harus mulai mempelajari dan memanfaatkan teknologi tersebut demi meningkatkan kompetensi diri.
"Kemungkinan besar AI justru akan meningkatkan kualitas pekerjaan Anda, dan mengangkat tujuan dari pekerjaan itu sendiri," imbuh Huang.
Dalam skala yang lebih luas, Huang juga menekankan pentingnya mempersiapkan regulasi industri yang akomodatif terhadap perkembangan keterampilan kecerdasan buatan.
"Semua orang harus menjadi bagian dari proses ini," tambah Huang.
Kritik dari pimpinan Nvidia ini muncul di tengah maraknya pengumuman pengurangan karyawan oleh perusahaan global, termasuk Standard Chartered dan Meta.
Standard Chartered pada tanggal 19 Mei mengumumkan rencana pemangkasan lebih dari 7.000 posisi dalam kurun waktu empat tahun ke depan demi meningkatkan profit dan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan.
"Dalam beberapa kasus, ini adalah langkah menggantikan sumber daya manusia yang bernilai lebih rendah dengan modal finansial dan modal investasi yang kami tanamkan," kata CEO Bill Winters.
Pernyataan dari pimpinan Standard Chartered tersebut sempat memicu gelombang kecaman dari warganet serta tokoh berpengaruh sebelum akhirnya ia menyampaikan permohonan maaf.
Sementara itu, korporasi teknologi Meta juga baru saja memberhentikan sekitar 8.000 pekerja atau setara dengan 10 persen dari total karyawannya akibat tingginya anggaran belanja infrastruktur AI.