Jensen Huang Viral Traktir Pengunjung Pasar Malam Taipei Demi Jagung Bakar

Jensen Huang Viral Traktir Pengunjung Pasar Malam Taipei Demi Jagung Bakar

Sebuah momen unik yang melibatkan CEO Nvidia, Jensen Huang, mendadak viral di berbagai platform media sosial setelah dirinya mengunjungi pasar malam di Taipei, Taiwan.

Pria dengan estimasi kekayaan mencapai 176 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.977 triliun tersebut tertangkap kamera sedang mengantre untuk membeli jagung bakar di Raohe Street Night Market, seperti dikutip dari Tekno.

Ketika Huang tiba di lokasi, lapak pedagang kaki lima yang populer tersebut sudah dipenuhi oleh antrean panjang pengunjung.

Kehadiran orang nomor satu di perusahaan semikonduktor raksasa dunia ini segera disadari oleh masyarakat sekitar yang kemudian berkerumun untuk meminta foto bersama.

Di tengah situasi yang ramai, Huang spontan mengeluarkan uang tunai dan berseru kepada penjual serta para pengunjung di sekitarnya.

"Saya mau traktir semua orang. Tapi boleh enggak saya dapat duluan?" kata Huang sambil tersenyum.

Pernyataan tersebut langsung memancing tawa dan reaksi heboh dari orang-orang yang berada di sekitar tempat berjualan.

Meskipun pedagang sempat menjelaskan bahwa para pelanggan telah membayar pesanan masing-masing, Huang tetap berniat untuk menanggung seluruh biaya tersebut.

Pedagang akhirnya menyerahkan satu kantong jagung bakar lebih awal kepada Huang, yang kemudian memastikan kembali izin dari orang-orang di sekitarnya.

"Boleh ya (dapat duluan)?" kata Huang sambil menunjukkan jagung bakarnya.

Para pengunjung yang mengantre serentak memberikan jawaban setuju kepada sang miliarder.

Huang langsung membuka dan mencicipi makanan tersebut di tempat, lalu berseru "haochi" yang berarti enak dalam bahasa Mandarin.

Dengan penampilan santai mengenakan kaos hitam dan celana jeans putih, ia terus meladeni permintaan foto dari warga sembari menikmati jagung bakarnya.

Momen santai bos Nvidia yang diunggah ulang oleh berbagai akun media sosial termasuk X ini memicu perdebatan di kalangan warganet.

Sebagian netizen menganggap tindakan tersebut sebagai interaksi jenaka dan humanis antara seorang pengusaha sukses dengan masyarakat lokal.

"Kalau kamu membayari semua orang di antrean, itu sebenarnya bukan motong antrean," tulis salah satu pengguna X.

Pengguna lain bercanda, "apa gunanya jadi miliarder kalau tidak bisa melakukan hal-hal ala miliarder?"

Namun, tidak sedikit pula warganet yang melontarkan kritik dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penggunaan materi untuk mendapatkan prioritas.

"Saya dulu menghormatinya, tapi ini terasa seperti dia percaya uang bisa membeli privilese apa pun," tulis pengguna lain.

Ada juga netizen yang menilai budaya antre tetap harus dihormati.

"Antre adalah soal budaya dan menghormati orang lain," tulis komentar lainnya.

Meski memicu pro dan kontra, banyak pihak tetap membela Huang karena menganggap solusi finansial yang ditawarkannya saling menguntungkan bagi pedagang maupun pembeli lain.

Gemar Kuliner Kaki Lima dan Rekam Jejak Masa Muda

Aksi Huang berburu makanan jalanan bukan kali ini saja terjadi, karena ia dikenal kerap mendatangi warung makan sederhana saat melakukan kunjungan kerja.

Saat berada di Beijing beberapa waktu lalu, Huang sempat menjadi perbincangan setelah terlihat makan mi di sebuah restoran kecil.

Kehadirannya bahkan membuat pemilik restoran meluncurkan menu khusus bernama "God of War in leather jacket" sebagai penghormatan terhadap jaket kulit hitam yang menjadi ciri khasnya.

Kedekatan Huang dengan industri makanan disinyalir berkaitan dengan latar belakang masa mudanya sebelum sukses di industri teknologi.

Saat masih remaja di Portland, pria yang kini memimpin salah satu perusahaan paling bernilai di dunia itu pernah bekerja sebagai pencuci piring dan pelayan di jaringan restoran Denny's.

Artikel terkait

Rekomendasi