Penguasaan aspek teknis secara menyeluruh dan keberanian melakukan kolaborasi lintas disiplin menjadi tuntutan utama bagi para desainer mode untuk bertahan di industri kreatif saat ini, dilansir dari Lifestyle.
Kapasitas nyata seorang perancang busana profesional kini dibuktikan melalui pemahaman mendalam tentang pembuatan pola, pemilihan material, hingga kesiapan proses jahit, bukan sekadar keahlian menggambar pakaian.
Tuntutan standar keahlian yang semakin tinggi dalam industri mode tersebut dibahas dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future" di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, pada Selasa (19/5/2026).
"Seorang fashion designer itu enggak cukup kalau cuma bisa gambar. Mereka bisa bener-bener mengeksekusi apa yang dia kreasikan di dalam otaknya itu jadi satu kenyataan," tutur Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta.
Kapasitas produksi para perancang busana modern juga ditantang melalui aturan jumlah pakaian minimum dalam panggung pekan mode untuk mengasah insting bisnis melalui koleksi siap pakai (ready-to-wear).
"Kalau dia udah bisa bikin 20 look minimal setiap tahun secara konsisten, itu pasti levelnya udah berbeda secara otomatis daripada yang bikin enam look aja," papar Thresia.
Konsistensi jenama fesyen dinilai akan terbangun dengan menyiapkan puluhan variasi pakaian yang utuh dan saling melengkapi demi mengamankan posisi di tengah persaingan ketat.
"Kalau mau bikin ready-to-wear itu perlu punya satu koleksi yang lengkap, identitasnya juga harus jelas," tutur Thresia Mareta.
Tantangan konsistensi memproduksi puluhan desain setiap tahun berisiko membawa para perancang busana pada batas kreativitas atau kebuntuan ide segar.
"Sedikit berbeda itu lebih baik daripada sedikit lebih bagus. Jadi perbedaan apa yang menunjukkan bahwa koleksi musim ini lebih berbeda dibandingkan yang kemarin meskipun tetap in line," terang Pengamat fesyen sekaligus Kepala Desk Budaya Harian Kompas, Hilmy Faiq.
Kerja sama dengan seniman atau pihak dari disiplin ilmu luar disarankan sebagai solusi memberikan penyegaran visual tanpa merusak identitas desain yang telah ada.
"Kalau kemudian di situ sudah mentok, coba kolaborasi. Ini saya kira LV (Louis Vuitton) di tahun 2000-an awal itu dia membongkar itu dengan kerja sama Takashi Murakami, seniman Jepang," ucap Hilmy Faiq.
Eksplorasi ide silang melalui kemitraan tersebut dinilai menjadi siasat menarik bagi jenama fesyen agar bentuk koleksinya tidak berjalan di tempat.
"Poinnya adalah bagaimana kita bisa berani keluar dari zona nyaman dan melakukan eksperimen yang kemungkinan bisa menarik perhatian publik, tanpa keluar dari identitas awal," pungkas Hilmy Faiq.