Kebiasaan orang tua membagikan foto, video, hingga aktivitas anak di media sosial atau sharenting dinilai semakin berisiko terhadap privasi dan keamanan digital anak. Unggahan sederhana di internet dapat membuka celah penyalahgunaan data pribadi.
Dilansir dari Detik iNET, penelitian terbaru perusahaan keamanan siber Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkap dampak negatif tersebut. Risiko yang mengintai mulai dari pelacakan lokasi, profiling digital, hingga pencurian identitas.
Studi bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children's Data itu melibatkan 152 responden. Para responden berasal dari sembilan negara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Filipina, hingga Mesir.
Riset ini menyoroti cara orang tua menilai risiko saat membagikan kehidupan anak secara daring. Selain itu, penelitian mengukur sejauh mana mereka mampu melindungi privasi digital keluarga.
Senior Manager Cyber Safety Education Asia Pasifik Kaspersky, Trisha Octaviano mengatakan, kebiasaan membagikan momen keluarga di media sosial memang dapat membangun koneksi sosial dan dukungan antarsesama orang tua. Namun di balik itu, ada ancaman digital yang sering kali tidak disadari.
"Seiring bertambahnya usia orang tua, mereka biasanya menjadi lebih peka terhadap ancaman dan kerentanan, baik daring maupun luring, sehingga lebih proaktif dalam melindungi anak-anak mereka," ujarnya dikutip Selasa (19/5/2026).
Berdasarkan data penelitian, sebagian besar orang tua sebenarnya sudah mulai sadar pentingnya menjaga privasi digital anak. Sebanyak 85% responden mengaku menghindari membagikan informasi sensitif seperti tanggal lahir, alamat rumah, hingga sekolah anak.
Selain itu, terdapat 84% orang tua membatasi akses unggahan hanya untuk keluarga dan teman dekat. Sementara 80% lainnya menghapus izin resharing agar konten tidak mudah disebarluaskan pihak lain.
Sekitar 78% responden juga mengaku menonaktifkan fitur metadata dan geotagging pada foto. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kebocoran lokasi anak.
Temuan lain menunjukkan bahwa ibu cenderung lebih berhati-hati dibanding ayah dalam aktivitas berbagi konten anak di media sosial. Naluri protektif ibu di dunia nyata dinilai terbawa ke ruang digital.
Para ibu dianggap lebih percaya diri dalam menerapkan langkah keamanan privasi. Mereka juga lebih yakin terhadap pentingnya perlindungan data anak.
Wakil Direktur Academy of Learning and Teaching SIT, Jiow Hee Jhee mengatakan, banyak orang tua belum menyadari bahwa unggahan sederhana dapat meninggalkan jejak digital jangka panjang bagi anak-anak mereka.
"Berbagi momen keluarga secara daring memang dapat menciptakan koneksi dan dukungan, tetapi juga dapat mengekspos anak-anak pada risiko yang sering kali tidak terlihat seperti profiling, pelacakan yang tidak diinginkan, dan penyalahgunaan informasi pribadi," jelasnya.
Menurut Jiow Hee Jhee, perlindungan jejak digital anak dimulai dari keputusan kecil sehari-hari. Keputusan ini diambil orang tua saat menggunakan media sosial.
Para ahli menyarankan orang tua lebih selektif sebelum mengunggah informasi tentang anak di internet sebagai langkah pencegahan. Pengaturan akun media sosial menjadi privat menjadi salah satu tindakan yang dianjurkan.
Langkah lainnya adalah menghapus metadata dan lokasi pada foto, membatasi informasi pribadi anak yang diunggah, serta rutin mengecek pengaturan privasi akun. Orang tua juga diminta menghindari unggahan yang memperlihatkan lokasi rutin anak.
Lokasi rutin tersebut meliputi sekolah, tempat les, atau klub olahraga karena dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Pengawasan aktivitas digital anak dan edukasi keamanan siber di keluarga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko sharenting.