Sebuah studi global terbaru yang dilakukan oleh pusat riset pasar Kaspersky mengungkapkan fakta mengenai perilaku keamanan siber keluarga di Indonesia. Data yang dirilis pada Mei 2026 tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap keamanan daring cukup tinggi. Namun, dilansir dari Medcom, masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam hal perlindungan perangkat secara menyeluruh.
Kondisi ini memicu kebutuhan mendesak akan adanya sosok Manajer Digital Keluarga. Peran tersebut bertanggung jawab memastikan setiap anggota keluarga terlindungi dari ancaman siber yang kian kompleks.
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 53% pengguna di Indonesia telah mengambil peran proaktif. Mereka memberikan edukasi secara rutin kepada anggota keluarga, termasuk lansia dan anak-anak, mengenai praktik daring yang aman. Angka ini melampaui rata-rata global yang berada di angka 47%.
Masyarakat Indonesia juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap manajemen identitas digital. Sebanyak 65% responden menyarankan penggunaan pengelola kata sandi. Sementara itu, 49% mendorong penggunaan otentikasi multi-faktor atau MFA demi memperkuat lapisan keamanan akun online mereka.
Namun, tren positif dalam aspek edukasi dan saran teknis ini belum berbanding lurus dengan pemasangan solusi keamanan pada perangkat fisik. Data menunjukkan bahwa hanya 38% pengguna di Indonesia yang telah memasang solusi keamanan di seluruh perangkat anggota keluarga mereka.
Meski angka ini lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya mencapai 33%, pakar keamanan menekankan bahwa angka tersebut masih perlu ditingkatkan. Penjahat siber kini menyasar berbagai jenis perangkat tanpa kecuali, mulai dari komputer pribadi, tablet, hingga ponsel pintar.
Marina Titova, Wakil Presiden Bisnis Konsumen di Kaspersky menjelaskan bahwa setiap perangkat baru dan setiap jam tambahan yang dihabiskan secara daring secara otomatis memperluas area serangan bagi pelaku kejahatan siber.
"Ia menekankan pentingnya perlindungan komprehensif karena tidak semua generasi memiliki kemampuan adaptasi yang sama terhadap perubahan teknologi. Oleh karena itu, pendekatan keamanan multi-perangkat yang terintegrasi menjadi kunci utama untuk menciptakan lingkungan digital keluarga yang aman."
Studi ini juga mencatat bahwa kelompok usia di atas 55 tahun cenderung kurang terlibat dalam upaya keamanan keluarga secara sistematis. Di sisi lain, Indonesia mencatatkan angka yang cukup membanggakan dalam hal pencegahan total.
Hanya 4% responden yang mengaku tidak mengambil tindakan perlindungan sama sekali. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan angka global sebesar 10%. Kesadaran yang tumbuh ini diharapkan dapat berlanjut menjadi langkah teknis yang nyata untuk meminimalisir risiko kerentanan digital bagi seluruh lapisan generasi dalam keluarga.