Ritual menyantap hidangan yang seharusnya menjadi momen menikmati rasa kini mulai bergeser menjadi aktivitas yang sulit terlepas dari layar gawai. Tren hiburan digital yang terus mengalir membuat banyak orang, khususnya generasi muda, terbiasa makan sambil menyaksikan konten media sosial atau video.
Dilansir dari Megapolitan, psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena otak manusia semakin terbiasa mendapatkan stimulasi cepat dari konten digital. Kebiasaan multitasking membuat otak secara otomatis mengasosiasikan waktu makan dengan kebutuhan akan hiburan visual.
"Banyak orang sudah terbiasa melakukan beberapa aktivitas sekaligus atau multitasking, seperti makan sambil menonton, scrolling, atau bermain gadget," ujar Virginia.
Kondisi tersebut berisiko memicu perilaku yang disebut sebagai mindless eating atau makan tanpa kesadaran penuh. Virginia memaparkan bahwa perhatian yang terbagi antara makanan dan tontonan membuat seseorang kurang peka terhadap sinyal lapar maupun kenyang dari tubuh.
"Saat kita terlalu fokus pada tontonan, terkadang kita jadi kurang sadar dan kurang memperhatikan perasaan yang lain, seperti rasa lapar atau kenyang, seberapa cepat kita makan atau jumlah makanan yang dikonsumsi," kata Virginia.
Efek dari pola ini adalah kecenderungan makan lebih cepat atau dalam porsi yang melebihi kebutuhan tubuh karena tidak benar-benar menikmati makanan tersebut. Virginia menambahkan bahwa semakin sering kebiasaan ini dilakukan, seseorang akan merasa ada yang kurang jika harus makan dalam kondisi hening.
"Sehingga, ketika makan dilakukan tanpa screentime, sebagian orang merasa bahwa ada yang kurang, terlalu sepi dan bosan," tutur Virginia.
Psikolog tersebut menilai situasi ini lebih sering ditemukan pada Gen Z mengingat layar digital telah menjadi bagian integral dari rutinitas harian mereka. Stimulasi eksternal yang terus-menerus membuat momen tenang justru terasa tidak nyaman bagi sebagian orang.
"Jika otak terus terbiasa dengan stimulasi eksternal, momen hening bisa mulai terasa membosankan, bahkan tidak nyaman dan membuat gelisah," ucap Virginia.
Meskipun telah menjadi bagian dari pola hidup modern yang akrab dengan teknologi, Virginia mengingatkan pentingnya memberikan ruang bagi pikiran untuk tetap fokus pada aktivitas utama. Kemampuan menikmati momen sederhana tanpa distraksi dianggap krusial bagi kesejahteraan psikologis.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Andreas, seorang pemuda berusia 26 tahun yang mulai terbiasa makan sambil menonton sejak tinggal sendiri di indekos. Awalnya, ia menyalakan YouTube hanya untuk mengusir rasa sepi setelah lelah berkuliah.
"Dulu awalnya cuma iseng biar tidak sepi, apalagi habis pulang kampus capek dan kamar kos juga sunyi posisinya, lama-lama malah kebiasaan," kata Andreas.
Kini, Andreas mengaku canggung jika harus makan tanpa ditemani tontonan dari ponsel atau laptopnya. Ia bahkan sering sengaja mencari video dengan durasi yang sesuai dengan waktu makannya agar tidak merasa bosan.
"Pernah beberapa kali sengaja coba makan tanpa ponsel, tapi jadinya hening saja begitu buru-buru selesai karena tidak ada yang dilihat," tutur Andreas.
Sementara itu, Darendra yang berusia 25 tahun menyebut kebiasaan ini sudah terbentuk sejak kecil akibat televisi yang selalu menyala saat jam makan di rumahnya. Baginya, makan tanpa tontonan justru membuat pikirannya terdistraksi oleh beban pekerjaan atau tugas.
"Kalau makan tanpa nonton saya malah sering bengong sendiri. Kadang pikiran ke mana-mana, kepikiran tugas, kerjaan, atau masalah lain," ujar Darendra.
Ia mengakui bahwa durasi makannya menjadi jauh lebih lama karena sering melanjutkan menonton meski makanan sudah habis. Darendra juga pernah mengalami momen di mana ia tidak sadar makanannya telah habis karena terlalu fokus pada tayangan di layar.
"Iya sering, pernah lagi nonton live streaming Windah sambil makan, tahu-tahu makanan sudah habis sendiri padahal saya tidak sadar makan secepat itu," ucap Darendra.