Teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif kini telah mengendalikan sepenuhnya industri drama pendek China (dracin). Visual menyerupai persilangan film dan video game dari serial berjudul Carrying the Dragon King's Baby menjadi salah satu buktinya. Tayangan tersebut murni diproduksi menggunakan mesin AI tanpa keterlibatan aktor, sutradara, operator kamera, maupun spesialis efek visual.
Sinetron mikro yang dirancang khusus untuk layar smartphone ini memiliki durasi sangat singkat, yaitu satu hingga dua menit per episode. Alur cerita penuh plot twist sengaja dibuat untuk memicu adrenalin penonton agar terus melakukan scrolling. Strategi bombastis lewat iklan di berbagai platform media sosial terbukti sukses merayu penonton untuk berlangganan.
Dilansir dari Tekno, nilai pasar dracin pada 2024 dilaporkan menembus 6,9 miliar dollar AS dan melampaui pendapatan film layar lebar tahunan di negara tersebut. Ekspansi ke luar negeri juga sudah dimulai sejak 2022 dengan menerjemahkan karya populer atau memroduksi serial lokal. Amerika Serikat menjadi pasar asing terbesar yang menyumbang sekitar 50 persen pendapatan global. Firma riset Omdia bahkan memperkirakan pasar mikrodrama global akan menyentuh angka 144 miliar dollar AS pada tahun ini.
Perusahaan asal China kini memanfaatkan AI generatif demi mendulang keuntungan secara lebih efisien. Sekitar 470 judul drama pendek berbasis AI dirilis setiap harinya pada Januari 2026. Beberapa platform seperti FlexTV bahkan dilaporkan telah menghentikan seluruh proses syuting konvensional mereka dan beralih seratus persen ke teknologi AI.
"Semua orang mengharapkan pengembalian (modal) yang cepat. Di China, jika sebuah serial tidak balik modal dalam waktu satu bulan, industri akan menganggapnya sebagai sebuah kegagalan," kata Tang Tang, Wakil Presiden platform FlexTV.
Sebelum kehadiran AI, satu proyek drama membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk menyelesaikan proses konseptualisasi, penulisan naskah, perekrutan aktor, syuting, hingga editing. Biaya produksi di pasar Amerika Utara bahkan bisa menyentuh angka 200.000 dollar AS. Penggunaan AI berhasil memangkas waktu pengerjaan menjadi kurang dari sebulan serta menghemat biaya produksi sekitar 80 hingga 90 persen. Tren ini dinilai sebagai bentuk adaptasi terhadap rentang perhatian manusia yang semakin pendek.
Dampak Terhadap Kru Produksi dan Penulis Naskah
Transisi teknologi ini berdampak langsung pada hilangnya lapangan pekerjaan bagi kru produksi tradisional. Perusahaan tidak lagi memerlukan jasa teknisi tata cahaya, kru kamera, atau penata rias. Tim produksi kini disusutkan menjadi kelompok kecil yang hanya berisi produser, penulis naskah, sutradara AI, dan profesi baru yang disebut Kurator Aset AI.
Kurator Aset AI bertugas menerjemahkan naskah cerita menjadi perintah teks atau prompt ke dalam sistem. Mereka kemudian menghasilkan gambar referensi karakter, kostum, dan adegan yang diikuti oleh model video AI. Proses ini biasanya mengandalkan generator populer seperti Nano Banana milik Google, Seedance buatan ByteDance, atau Kling besutan Kuaishou.
Kondisi memprihatinkan juga dirasakan oleh para penulis naskah karena beban kerja berubah drastis dan bayaran yang mulai anjlok. Tenggat waktu pengerjaan naskah kini dipotong dari hitungan bulan menjadi beberapa minggu saja. Selain itu, mereka harus menulis naskah yang ditujukan agar bisa dibaca dan dimengerti oleh mesin AI.
"Sebelum ada AI, menulis 'Ia menatapnya dengan dingin' saja sudah cukup. Tapi sekarang, saya mungkin harus mendeskripsikannya dengan tulisan, 'Sinar cahaya dingin memancar keluar dari matanya' (agar bisa diterjemahkan oleh AI)," keluh Phoenix Zhu, seorang penulis lepas.
Industri drama pendek kerap mendapat cibiran karena terus mengulang tema yang sama seperti balas dendam atau cinta segitiga demi mempertahankan efek kejutan bagi penonton. Namun, mantan mitra Legend Capital Shangguan Hong menilai kondisi ini sebagai hal yang lumrah dalam ekosistem digital.
"Tidak ada orang yang datang menonton drama pendek untuk mengharapkan sebuah karya seni tingkat tinggi. (Sejak awal), industri drama pendek memang digerakkan oleh data secara real-time. AI hanya mempertegas logika tersebut. Dalam arti tertentu, drama pendek memang sangat cocok dipasangkan dengan AI," pungkas Shangguan Hong.