Pemenuhan kebutuhan fisik anak tidak selalu berbanding lurus dengan pemberian dukungan emosional yang sehat dari orangtua. Kesenangan atau kecukupan materi sering kali belum menjamin kematangan psikologis dalam hubungan keluarga.
Dunia terapi mengenal kondisi keterbatasan ini dengan istilah emotionally immature parents, atau orangtua yang tidak dewasa secara emosional. Seperti diberitakan oleh Lifestyle, para ahli menyebut figur tersebut cenderung memosisikan diri sendiri sebagai pusat dari semua keadaan.
“Orangtua yang tidak dewasa secara emosional adalah orangtua yang tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional anak, baik saat anak masih kecil maupun ketika sudah dewasa,” kata terapis pernikahan dan keluarga Aparna Sagaram.
Menurutnya, orangtua seperti ini sering kali kesulitan mengatur emosinya sendiri dan tanpa sadar membebankan hal tersebut kepada anak.
Pola komunikasi yang kurang sehat ini dapat dideteksi melalui sejumlah karakteristik tertentu. Perilaku tersebut kerap membawa dampak psikologis yang signifikan bagi perkembangan mental anak hingga masa depan.
1. Berbagi Masalah Orang Dewasa Kepada Anak
Figur orangtua dalam kelompok ini kerap menjadikan anak sebagai tempat mencurahkan luapan emosi pribadi. Urusan rumah tangga, konflik pekerjaan, hingga kendala finansial sering diceritakan, meskipun mental anak belum siap menerima informasi tersebut.
“Jika seorang anak terus mendengar masalah orang dewasa, situasinya bisa terasa sangat kacau,” ujar Sagaram.
Konsekuensi jangka panjang dari kebiasaan ini dapat memicu anak merasa bertanggung jawab atas perasaan orangtua mereka. Sebaliknya, anak juga berisiko tumbuh menjadi pribadi yang menutup diri secara emosional.
2. Menjadikan Anak Sumber Dukungan Emosional
Terapis Jennifer Chaiken mengutarakan bahwa tipe orangtua ini sering mencari validasi, ketenangan, maupun sandaran emosi dari anak kandung mereka sendiri. Fenomena ini membalikkan kodrat hubungan ideal yang seharusnya terjalin di dalam keluarga.
“Aliran perhatian dan dukungannya jadi terbalik,” kata Chaiken.
Respon negatif berupa kemarahan besar atau reaksi berlebihan berpotensi muncul dari pihak orangtua saat anak tidak sanggup melayani tuntutan batin tersebut.
3. Keterbatasan Rasa Empati
Individu yang belum matang secara emosi umumnya menjumpai kesulitan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami anak. Menurut Chaiken, mereka sering tidak menyadari implikasi dari emosi dan tindakan pribadinya terhadap orang sekitar.
Fokus yang terlampau besar pada diri sendiri membuat figur orangtua ini gagal mengidentifikasi kebutuhan batin anak secara tepat.
4. Enggan Menghormati Batasan Pribadi
Kecenderungan lain yang kerap muncul adalah penolakan terhadap batasan personal. Chaiken memaparkan bahwa sebagian orangtua menerapkan pola yang terlalu kaku, sementara sebagian lainnya justru mengabaikan batasan sehat sama sekali.
Sagaram menambahkan bahwa karakter ini membuat orangtua sulit menerima batasan yang dibuat oleh sang anak sendiri. Sebagai contoh, permohonan anak agar orangtua memberi kabar terlebih dahulu sebelum berkunjung bisa disalahpahami sebagai bentuk penolakan.
5. Menggunakan Rasa Bersalah dan Sikap Diam
Manipulasi psikologis lewat rasa bersalah sering diterapkan demi mengendalikan anak. Sagaram mencontohkan kemunculan kalimat seperti "Kamu sudah tidak peduli lagi sama keluarga" atau "Tidak ada yang pernah menelepon ibu".
Langkah hukuman lain yang sering diambil adalah silent treatment atau aksi mendiamkan anak ketika emosi melanda, alih-alih menyelesaikan konflik melalui komunikasi terbuka.
6. Fluktuasi Emosi yang Tidak Konsisten
Chaiken menilai suasana hati orangtua dengan kondisi ini sangat fluktuatif dan sulit diprediksi. Kejadian buruk di tempat kerja, misalnya, dapat berujung pada pelampiasan amarah kepada pasangan atau anak saat tiba di rumah.
Kondisi lingkungan yang tidak stabil ini memaksa anak untuk tumbuh dalam ketidakpastian emosional yang konstan.
7. Mengabaikan Identitas Unik Anak
Sagaram memaparkan bahwa orangtua yang sehat secara mental akan mendukung anak tumbuh menjadi individu independen dengan nilai, opini, dan batasan mandiri. Hal sebaliknya terjadi pada orangtua yang tidak dewasa secara emosional.
“Mereka tidak mampu melihat anak sebagai individu yang terpisah dari dirinya sendiri,” ujar Sagaram.
Langkah Penanganan yang Dapat Diambil
Kesadaran penuh mengenai keberadaan pola hubungan tersebut menjadi langkah awal yang paling krusial menurut pandangan para terapis. Pemahaman ini membantu mengurai benang kusut dalam dinamika keluarga.
Chaiken berpendapat bahwa seseorang tetap bisa mengapresiasi usaha terbaik yang telah dilakukan orangtua, sembari berdamai dengan kenyataan bahwa kebutuhan emosionalnya mungkin belum terpenuhi sewaktu kecil.
Pakar psikologi menyarankan pembentukan batasan diri yang kokoh, pencarian sistem dukungan sosial, serta penerapan metode re-parenting. Metode ini melatih individu memberikan pemenuhan emosi masa kecil yang hilang kepada diri sendiri.
Sagaram menambahkan, intervensi profesional melalui sesi terapi bersama ahli juga sangat disarankan guna memutus rantai pola asuh kurang sehat yang diwariskan antar-generasi.