Perubahan sikap yang berlangsung secara terus-menerus dapat menjadi sinyal bahwa perasaan pasangan mulai berubah. Hubungan yang merenggang ini sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba, seperti dilansir dari Lifestyle.
Kondisi tersebut biasanya dimulai dari hal-hal kecil. Contohnya adalah jarang membalas pesan, enggan meluangkan waktu bersama, hingga tidak lagi menunjukkan antusiasme terhadap hubungan.
“Jika kamu bukan lagi prioritas utama mereka, itu adalah sesuatu yang perlu diperhatikan,” jelas terapis keluarga sekaligus life coach Tess Brigham, disadur Seventeen, Jumat (15/5/2026).
Sementara itu, terapis Jeff Guenther menjelaskan bahwa banyak orang sebenarnya ingin mengakhiri hubungan, tetapi tidak tahu cara menyampaikannya.
Terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa pasangan mungkin sudah kehilangan rasa cinta dalam hubungan yang sedang dijalani.
1. Menghindari Waktu Bersama
Salah satu indikasi paling jelas terlihat ketika pasangan mulai jarang meluangkan waktu untuk bersama. Mereka mungkin sering membatalkan janji secara mendadak tanpa menawarkan jadwal pengganti.
Ajakan bertemu yang dulu rutin kini nyaris tidak pernah datang dari mereka. Bahkan, komunikasi sederhana seperti menelepon atau mengirim pesan mulai terasa hambar.
Menurut Brigham, ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia biasanya akan berusaha menyempatkan waktu meski memiliki kesibukan.
“Jika mereka tak lagi berusaha hadir, itu bisa menjadi sinyal bahwa keterikatan emosional mulai memudar,” jelasnya.
2. Berkurangnya Kasih Sayang Fisik
Perubahan dalam sentuhan fisik juga bisa menjadi pertanda tersendiri. Pasangan yang dulu sering menggenggam tangan, memeluk, atau menunjukkan afeksi kecil kini mulai menjaga jarak.
“Keinginan terhadap kedekatan fisik memang bisa naik turun dalam hubungan,” ujar Guenther.
Guenther menambahkan, jika penurunan itu berlangsung lama dan kamu terus merasa ditolak, hal ini patut diperhatikan. Minimnya kehangatan fisik dapat mencerminkan perubahan kedekatan emosional.
3. Kerap Memicu Pertengkaran
Hal-hal sepele mendadak menjadi bahan perdebatan yang besar. Mulai dari pilihan tontonan, cara membalas pesan, hingga persoalan kecil lainnya kini bisa memicu konflik.
“Mereka mungkin menciptakan masalah agar kamu terlihat sebagai pihak yang salah dan akhirnya memutuskan hubungan lebih dulu,” tutur Brigham.
Pola seperti ini kerap muncul ketika seseorang merasa kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dalam mengakhiri hubungan.
4. Menolak Bicara Masa Depan
Ketika pasangan masih serius, mereka biasanya akan membicarakan rencana bersama secara berkala. Hal ini mencakup rencana liburan, acara keluarga, atau impian jangka panjang.
Namun, jika topik masa depan mulai dihindari, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal yang cukup serius.
“Ketika seseorang mulai kehilangan cinta, mereka berhenti membicarakan impian yang dulu dibangun bersama,” ucap Guenther.
Jika pasangan terlihat datar atau mengalihkan pembicaraan setiap kali topik masa depan muncul, bisa jadi ia tak lagi melihat hubungan ini sebagai bagian dari rencananya.
5. Memberikan Perhatian yang Tidak Konsisten
Kadang pasangan terlihat dingin selama beberapa hari, lalu tiba-tiba bersikap manis. Perhatian ini cukup untuk membuatmu bertahan, tetapi tidak pernah benar-benar konsisten.
Fenomena ini dikenal sebagai breadcrumbing. Pola tersebut sering kali membingungkan dan membuat seseorang terus menaruh harapan.
“Ini adalah ketika seseorang memberi cukup perhatian untuk membuat pasangannya tetap bertahan, tetapi tidak sepenuhnya hadir dalam hubungan,” kata Guenther.
6. Intuisi Merasakan Perubahan
Psikolog klinis Stephanie Freitag menekankan pentingnya mendengarkan intuisi yang muncul. Sering kali hati lebih dulu menangkap perubahan sebelum logika menyadarinya.
Jika kamu terus merasa ada yang tidak beres meski tak bisa menjelaskan secara pasti, jangan abaikan perasaan tersebut.
“Kadang perubahan perilaku sangat halus, tetapi energi hubungan terasa berbeda,” terangnya.
7. Hilangnya Rasa Bahagia
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan rasa aman, tenang, dan dihargai. Jika sebagian besar waktumu justru dipenuhi kecemasan, overthinking, dan rasa tidak pasti, hubungan tersebut patut dievaluasi.
“Orang yang tepat akan membuatmu merasa nyaman, bukan hanya saat bersama mereka, tetapi juga ketika berjauhan,” pungkas Brigham.
Jika hubungan lebih sering menimbulkan stres daripada kebahagiaan, situasi ini memerlukan percakapan yang jujur antar kedua belah pihak.