UE Terancam Rugi Rp 6.900 Triliun Akibat Boikot Teknologi China

UE Terancam Rugi Rp 6.900 Triliun Akibat Boikot Teknologi China

Uni Eropa (UE) tengah menghadapi risiko finansial yang sangat besar terkait rencana pelarangan teknologi asal China dalam infrastruktur jaringan telekomunikasi mereka. Langkah ini diprediksi dapat memicu kerugian hingga USD 400 miliar atau setara Rp 6.900 triliun.

Dilansir dari Detik iNET, Kamar Dagang China baru-baru ini merilis analisis mengenai dampak jika blok Eropa tersebut menyingkirkan vendor teknologi China secara bertahap. Studi tersebut menunjukkan beban biaya yang sangat tinggi dalam lima tahun ke depan.

Kebijakan ini muncul karena UE menganggap komponen dan peralatan dari China memiliki risiko keamanan yang tinggi pada sektor jaringan krusial. Alasan tersebut mendorong rencana untuk menghapus vendor besar seperti Huawei dan ZTE dari pasar mereka.

Keputusan ini akan menempatkan Huawei sebagai pihak pertama yang merasakan dampak langsung karena luasnya jaringan pasokan solusi teknologi mereka. Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa UE sendiri yang justru akan menghadapi kesulitan besar di masa mendatang.

Pemerintah China menuntut adanya pembenaran yang jelas terkait kekhawatiran keamanan siber dan tuduhan risiko tinggi tersebut. Bahkan, pihak China telah memberikan peringatan mengenai kemungkinan adanya langkah balasan jika kebijakan ini benar-benar diterapkan.

"UE harus mengganti perangkat keras dan menghapus aset serta berhadapan dengan efisiensi yang lebih rendah dan digitalisasi yang tertunda," sebut China.

Kerugian ekonomi ini diperkirakan akan memukul enam negara besar di UE, yakni Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Polandia, dan Belanda. Total kerugian di negara-negara tersebut diprediksi melampaui 10 miliar euro.

Jerman diprediksi menjadi negara yang paling terdampak dengan potensi kerugian mencapai 170,8 miliar euro. Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa pelabelan negara berisiko tinggi dilakukan tanpa adanya bukti pendukung yang kuat.

"Ini menstigmatisasi China dan merupakan perlakuan tidak adil serta diskriminatif terhadap produk-produk China," sebut pernyataan Kementerian Perdagangan China.

Langkah sepihak dari Uni Eropa ini dinilai akan memperburuk hubungan timbal balik dan merusak kerja sama ekonomi kedua belah pihak. Selain itu, kebijakan tersebut berisiko mengganggu stabilitas rantai industri serta pasokan teknologi di wilayah Eropa maupun secara global.

Artikel terkait

Rekomendasi