Ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang suci untuk memenuhi panggilan Allah SWT bagi setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial.
Dilansir dari Cahaya, Ketua 1 MUI Kota Tangerang Drs KH Amin Munawar, M.A mengingatkan agar setiap jamaah meluruskan niat sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Haji bukan merupakan kegiatan wisata, sarana mencari gelar, atau upaya untuk mendapatkan pujian dari orang lain di lingkungan sosial.
Dalam khutbahnya, Amin Munawar menekankan bahwa perjalanan ini harus dijalankan dengan hati yang bersih dan tujuan yang tulus karena Allah SWT.
Setiap jamaah diajak untuk terus memelihara ketakwaan dan menjadikan momen ibadah ini sebagai sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Melaksanakan haji ke Baitullah adalah pilar kelima dalam rukun Islam yang hukumnya wajib bagi umat Muslim yang telah memiliki kemampuan.
Abaikan terhadap kewajiban ini tanpa alasan syar'i yang jelas dianggap sebagai dosa besar, mengingat pentingnya kedudukan haji dalam agama Islam.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memberikan peringatan keras mengenai hal ini.
"Barang siapa memiliki bekal dan kendaraan yang cukup untuk mengantarkannya ke Baitullah, namun ia tidak berhaji, maka tidak mengapa ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani" sabda Rasulullah SAW.
Kewajiban ini juga ditegaskan dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 97 yang menyebutkan bahwa haji adalah hak Allah atas manusia yang mampu menempuh perjalanan.
"Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa yang memasukinya (Baitullah), amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (QS. Ali Imran: 97)
Dampak Buruk Niat yang Salah saat Berhaji
Sangat merugi bagi mereka yang berangkat ke Makkah dan Madinah namun memiliki motivasi selain beribadah kepada Allah SWT.
Biaya yang besar, tenaga fisik yang terkuras, serta waktu yang ditinggalkan bersama keluarga akan menjadi sia-sia jika fondasi niatnya rusak.
Sesuai hadis riwayat Bukhari, nilai dari setiap amal perbuatan manusia sangat bergantung pada niat yang mendasarinya sejak awal.
"إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ"
"Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya." (HR Bukhari)
Ada tiga kerugian utama yang mengintai jamaah jika niat berhaji tidak murni karena ibadah, yakni kehilangan nilai pahala, mubazir secara materi, dan tidak mendapat ampunan.
Allah SWT tidak akan menerima ibadah yang tercampur dengan sifat riya atau keinginan untuk dipuji dan populer di mata manusia.
Tanpa niat yang lurus, pengorbanan harta yang besar hanya akan membuahkan gelar duniawi atau koleksi foto tanpa nilai di sisi Allah.
Alih-alih membersihkan diri dari dosa, niat yang salah justru berisiko menambah dosa baru akibat kesombongan atau perilaku pamer ibadah.
Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaqwa sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 128.
"إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ"
Artinya: "Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."