Umat Islam diingatkan untuk meningkatkan intensitas amal ibadah saat memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Periode ini dinilai sebagai salah satu waktu paling istimewa sepanjang tahun.
Kemuliaan waktu tersebut bahkan dianggap melampaui hari-hari biasa karena besarnya potensi pahala serta ampunan yang ditawarkan. Seperti dilansir dari Cahaya, anjuran memperbanyak dzikir tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 28.
Para ulama memberikan tafsiran bahwa frasa “hari-hari yang telah ditentukan” dalam ayat tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Hal ini diperkuat melalui hadis riwayat Musnad Ahmad yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tidak ada hari yang lebih agung dan dicintai Allah untuk beramal selain pada periode tersebut.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam buku Lathaif al-Ma’arif menjelaskan keistimewaan hari-hari ini terletak pada terhimpunnya berbagai ibadah utama sekaligus. Ibadah tersebut meliputi shalat, puasa, sedekah, hingga pelaksanaan ibadah haji.
Dzikir menjadi salah satu amalan yang paling praktis dilakukan namun memiliki efek yang luar biasa bagi pelakunya. Amalan ini dapat dilakukan kapan pun tanpa terikat batasan tempat maupun waktu tertentu.
Oleh sebab itu, banyak pakar agama yang melabeli dzikir sebagai bentuk amal ringan yang mampu mendatangkan ganjaran pahala yang sangat besar.
Bacaan Inti Dzikir Dzulhijjah
Terdapat empat jenis bacaan utama yang sangat dianjurkan untuk terus dilantunkan selama sepuluh hari pertama bulan tersebut, yakni takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih.
Berikut adalah bacaan takbir yang menjadi simbol syiar kuat menjelang hari raya Idul Adha:
"اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ"
Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil hamd
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.”
Selain takbir, umat Islam juga dianjurkan membaca tahmid sebagai bentuk syukur:
"الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ"
Artinya: “Segala puji hanya milik Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah.”
Bacaan tahlil dan tasbih juga memiliki kedudukan penting sebagaimana disebutkan dalam riwayat Sahih Bukhari:
"لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"
Lā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Doa di Hari Arafah dan Istighfar
Puncak dari seluruh rangkaian ibadah awal Dzulhijjah terjadi pada hari kesembilan yang dikenal sebagai Hari Arafah.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Jami’ Tirmidzi menyampaikan bahwa sebaik-baik doa adalah doa yang dibaca pada momen Arafah tersebut:
"Lā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīkalah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyī wa yumīt, wa huwa hayyun lā yamūt, biyadihil khair, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr"
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan, Dia Maha Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Selain doa tersebut, umat Islam disarankan memperbanyak istighfar guna menyucikan hati dari dosa agar doa lebih mudah dikabulkan:
"أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ"
Astaghfirullāhal ‘azhīm alladzī lā ilāha illā huwal hayyul qayyūm wa atūbu ilaih
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus, dan aku bertaubat kepada-Nya.”
Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyebutkan bahwa istighfar merupakan kunci pembuka rahmat serta pemberi solusi atas berbagai kesempitan hidup yang dialami manusia.
Anjuran Shalawat dan Rutinitas Harian
Membaca shalawat juga menjadi bagian penting sebagai ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus membawa keberkahan hidup:
"اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ"
Allāhumma shalli ‘alā Muhammadin wa ‘alā āli Muhammad, kamā shallaita ‘alā Ibrāhīm
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim.”
Para ulama menyarankan pembagian waktu agar dzikir dapat dilakukan secara konsisten sepanjang hari, mulai dari dzikir pagi, takbir di sela aktivitas siang, hingga doa panjang pada malam hari.
Buku Fadhail al-A’mal karya Zakariyya Al-Kandhlawi mencatat bahwa Allah sangat mencintai amal yang dilakukan secara berkelanjutan, meskipun jumlahnya kecil.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta melalui kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang nilainya dilipatgandakan.