Umat Islam mulai mempersiapkan pemilihan hewan kurban menjelang peringatan Idul Adha. Ibadah ini menuntut pemahaman mengenai keutamaan atau afdhal dalam pelaksanaannya, bukan sekadar aspek finansial semata.
Masyarakat Indonesia sering dihadapkan pada pilihan antara berkurban satu ekor kambing secara mandiri atau patungan satu ekor sapi untuk tujuh orang. Dilansir dari Cahaya, faktor ekonomi sering menjadi penentu utama dalam mengambil keputusan tersebut.
Praktik kolektif atau patungan sapi lazim dilakukan sebagai solusi bagi warga yang belum mampu berkurban secara personal. Melalui sistem ini, tujuh orang dapat bekerja sama untuk menunaikan ibadah dengan satu ekor sapi.
Meskipun patungan sapi populer, sejumlah ulama memberikan pandangan berbeda terkait tingkat keutamaannya. Dikutip dari Cahaya, kurban satu kambing secara individu dinilai lebih utama dibandingkan ikut serta dalam patungan sapi atau unta.
Alasannya, manfaat dari tujuh ekor kambing dianggap lebih besar daripada satu ekor sapi. Hal ini berkaitan dengan aspek penyembelihan yang dilakukan secara personal oleh orang yang berkurban.
"Kambing (sendirian) lebih baik dari pada urunan sapi tujuh orang. Karena orang yang berkurban bisa menumpahkan darah (menyembelih) sendirian."
Nabi Muhammad SAW dalam praktiknya juga sering berkurban dengan hewan yang utuh. Beliau memilih hewan utuh baik berupa kambing, sapi, maupun unta, daripada menggunakan sistem bagian seperti 1/7 sapi atau 1/10 unta.
Urutan Jenis Hewan Kurban Terbaik
Penyusunan urutan keutamaan hewan kurban telah disimpulkan oleh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Urutan ini menjadi panduan bagi umat dalam memilih hewan terbaik sesuai dengan kemampuan mereka.
Berikut adalah daftar urutan keutamaan hewan kurban menurut pandangan tersebut:
- Unta secara utuh
- Sapi secara utuh
- Domba
- Kambing
- 1/7 bagian unta
- 1/7 bagian sapi
Pandangan serupa diperkuat oleh Ibnu Qassim Al-Ghazi yang menempatkan kambing lebih utama daripada patungan sapi. Namun, jika dilihat dari jenis hewannya, unta dan sapi secara mandiri tetap memiliki nilai yang lebih tinggi.
Relevansi dengan Kondisi Ekonomi
Berbagai argumen ulama tersebut umumnya merujuk pada latar belakang masyarakat Arab yang secara ekonomi memiliki kemampuan lebih untuk berkurban individu. Di Indonesia, patungan sapi menjadi alternatif yang realistis bagi banyak kalangan.
Pelaksanaan kurban pada dasarnya perlu diselaraskan dengan kondisi finansial masing-masing individu. Patungan sapi tetap dipandang sah dan bernilai ibadah jika memang menjadi pilihan terbaik bagi warga.
Apabila harga kambing lebih terjangkau, kurban secara personal dapat menjadi opsi yang lebih utama untuk diambil. Fokus utama dalam ibadah ini tetap terletak pada niat serta keikhlasan, baik dijalankan secara mandiri maupun bersama-sama.