Umat Islam menyambut momentum spiritual besar pada bulan Zulhijah melalui pelaksanaan puasa Arafah. Ibadah sunnah ini memiliki kedudukan istimewa karena dilaksanakan bertepatan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci.
Puasa Arafah berlangsung setiap tanggal 9 Zulhijah, tepat saat para jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah. Dilansir dari Cahaya, penetapan tanggal ini di Indonesia secara resmi mengikuti hasil sidang isbat Kementerian Agama RI.
Mayoritas ulama menetapkan hukum puasa Arafah sebagai sunnah muakkadah bagi mereka yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Penegasan ini tertuang dalam literatur fikih klasik hingga kontemporer sebagai anjuran yang sangat ditekankan.
Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah menjelaskan bahwa puasa ini sangat dianjurkan bagi umat Islam yang menetap di daerahnya masing-masing. Sebaliknya, jamaah haji yang sedang wukuf justru dimakruhkan untuk berpuasa.
Pelarangan bagi jamaah haji tersebut memiliki tujuan agar fisik mereka tetap kuat saat menjalankan rangkaian ibadah yang berat. Hal senada diungkapkan dalam buku Fiqih Islam karya Hasbiyallah yang menekankan pentingnya menjaga stamina dan kekhusyukan wukuf.
Keutamaan Menghapus Dosa Dua Tahun
Keistimewaan utama puasa Arafah didasarkan pada sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan dalam hadis sahih. Penghapusan dosa menjadi janji bagi setiap muslim yang menjalankannya dengan ikhlas.
"Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR Muslim)
Dosa yang dimaksud dalam perspektif teologis adalah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar tetap memerlukan taubat khusus. KH. Muhammad Habibillah menekankan bahwa amalan satu hari ini mencerminkan luasnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya.
Manfaat Spiritual dan Waktu Berdoa Terbaik
Selain penggugur dosa, hari Arafah juga dikenal sebagai waktu pembebasan dari api neraka. Berdasarkan hadis riwayat Muslim, tidak ada hari lain di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka selain pada hari tersebut.
Momen ini juga menjadi waktu paling utama untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Hadis riwayat Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa doa pada hari Arafah merupakan doa yang paling mustajab dan penuh keberkahan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menyebutkan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Zulhijah memiliki nilai yang berlipat ganda. Puasa Arafah menjadi puncak dari rangkaian amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
Tata Cara dan Niat Pelaksanaan
Pelaksanaan puasa Arafah secara teknis serupa dengan puasa sunnah lainnya, yakni dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Setiap individu wajib menjauhkan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.
Nur Solikhin dalam buku Buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah menjelaskan bahwa niat dapat diucapkan sejak malam hari. Kesempurnaan ibadah ini juga sangat bergantung pada kemampuan menjaga lisan serta perilaku selama berpuasa.
Nawaitu ṣauma 'arafata sunnatan lillāhi ta'ālā.
Artinya: "Saya niat puasa Arafah, Sunnah karena Allah ta'ala."
Ibadah ini menjadi simbol pembersihan jiwa sekaligus pengingat atas kesatuan spiritual umat Islam di seluruh dunia. Transformasi spiritual ini diharapkan dapat memperkuat pengendalian diri dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.