Bekerja dari rumah kerap dipandang sebagai solusi untuk menghindari kemacetan lalu lintas dalam perjalanan dinas harian. Meski menawarkan kenyamanan, sistem kerja ini memicu tantangan besar bagi kesehatan mental para pekerja jika tidak dikelola dengan tepat.
Tantangan nyata dirasakan oleh Wiwid (38), seorang document controller specialist di sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta, yang harus menerapkan strategi khusus agar terhindar dari kelelahan mental. Profil pekerja sekaligus ibu ini dilansir dari Lifestyle pada Senin (18/5/2026).
Aktivitas harian Wiwid saat bekerja dari rumah tidak sebatas menyelesaikan urusan administrasi kantor atau mengikuti rapat virtual. Ia dituntut membagi konsentrasi secara simultan antara merespons kebutuhan anak dan mengatur pola kerja yang kerap menyita waktu hingga malam hari.
Pemisahan fokus antara pekerjaan kantor dan urusan domestik menjadi salah satu hambatan terbesar dalam sistem kerja dari rumah. Situasi ini dialami Wiwid sewaktu memeriksa dokumen atau menghadiri rapat daring, sementara sang anak menuntut perhatian lebih.
"Terkadang kalau bekerja pas ada anak, dia jadi lebih manja, pengin disuapin tapi saya masih ngurus kerjaan. Anak jadi pengin dekat sama ibunya terus," jelas Wiwid.
Sadar tidak bisa memaksakan dua peran sekaligus secara sempurna, pendekatan kompromi yang realistis menjadi pilihan utama untuk menjaga ritme harian tetap berjalan seimbang.
"Jadi kadang harus kompromi dan kasih batasan ke anak, misalnya minta waktu 15 sampai 20 menit untuk selesaikan kerjaan, lalu suapin dia makan," ujar dia.
Pemberian batasan waktu yang terarah dinilai efektif untuk menuntaskan tugas tanpa mengabaikan pengasuhan anak di lingkungan rumah.
"Itupun saya kadang minta anak saya untuk makannya jangan terlalu lama. Setelahnya, saya kembali ngurus dokumen, zoom, atau kerjaan lainnya," katanya.
Penataan Jam Kerja dan Skala Urgensi
Waktu kerja yang fleksibel dalam sistem remote working berpotensi mengaburkan batasan antara kehidupan profesional dan personal.
"Tantangan lainnya itu ada di jam kerja WFH yang fleksibel. Saya bisa mulai kerja lebih awal atau bahkan selesai kerja sampai malam. Jadi agak kabur batasan jam kerjanya," ungkap Wiwid.
Pudarnya batasan jam kerja meningkatkan risiko kelelahan psikologis atau burnout secara signifikan jika tidak diantisipasi lewat manajemen kerja terstruktur.
Langkah preventif yang diambil Wiwid adalah menyusun urutan prioritas dengan mendahulukan tugas-tugas yang memiliki tenggat waktu paling mendesak.
"Tentu kalau pekerjaan itu tidak bisa ditolak ya, tapi saya berusaha buat skala prioritas. Mana yang sekiranya dibutuhkan cepat, itu yang saya kerjakan," terang dia.
Pilah-memilih beban kerja berdasarkan urgensi membantu menghemat energi psikologis dari tekanan target yang bertumpuk.
"Kalau pekerjaannya deadlinenya masih minggu depannya, maka saya lebih pilih kerjakan untuk di Senin minggu depan," ucap Wiwid.
Kendati demikian, lonjakan beban kerja dengan tingkat urgensi setara terkadang memaksa durasi kerja memanjang hingga malam hari.
"Tapi kalau semuanya dibutuhkan di hari yang sama, maka mau tidak mau saya harus menyelesaikan pekerjaannya sampai malam, dengan harapan weekend tidak diganggu pekerjaan lagi," imbuhnya.
Alokasi akhir pekan sepenuhnya difungsikan sebagai ruang pemulihan energi fisik dan mental setelah melewati siklus kerja mingguan yang padat.