Perjalanan dakwah para utusan Allah sering kali memperlihatkan momen krusial saat seorang nabi harus berhadapan dengan penguasa yang melampaui batas. Salah satu pelajaran spiritual yang mendalam terlihat dari kisah Nabi Musa AS saat diperintahkan menghadapi Firaun di Mesir.
Dilansir dari Cahaya, peristiwa ini bukan sekadar tentang keberanian fisik melawan tirani, melainkan juga tentang kerendahan hati seorang hamba dalam memohon pertolongan Tuhan. Nabi Musa AS menyadari bahwa tugas menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang mengaku sebagai tuhan adalah beban yang sangat berat.
Dalam literatur tafsir karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Firaun tidak hanya menindas rakyatnya, tetapi juga merusak sistem sosial bagi Bani Israil. Kondisi ini membuat Nabi Musa AS merasa perlu memperkuat mental dan batinnya sebelum melangkah maju.
Selain tekanan politik yang besar, Nabi Musa AS menyadari adanya keterbatasan personal dalam dirinya, terutama mengenai kefasihan berbicara. Hal ini tertulis dalam Al-Qur’an ketika beliau meminta agar saudaranya, Nabi Harun AS, mendampinginya dalam menjalankan risalah tersebut.
Di tengah situasi pelik itulah, Nabi Musa AS memanjatkan sebuah doa yang kini sangat populer di kalangan umat Islam. Doa tersebut diabadikan dalam Surah Taha ayat 25-28 sebagai bentuk permohonan kelapangan dan kemudahan.
رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً mِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى
Rabbisyrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani, yafqahu qauli.
"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku."
Dimensi Psikologis dan Kekuatan Doa
Sayyid Qutb melalui karya Fi Zhilalil Qur’an memandang doa ini dari sisi psikologis seorang nabi. Rasa khawatir yang muncul dianggap sebagai bentuk kesiapan mental untuk menjemput bantuan Ilahi dalam menghadapi tantangan besar.
Respons Allah SWT terhadap permintaan tersebut sangat tegas dalam Surah Taha ayat 36 yang menyatakan penegasan atas dikabulkannya permohonan itu.
“Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.”
Relevansi Doa dalam Kehidupan Modern
Dalam buku Doa Harian yang Dianjurkan Para Nabi dan Orang Saleh, doa ini disebut mencakup tiga aspek esensial bagi manusia modern. Pertama adalah permohonan kelapangan hati agar seseorang mampu menerima persoalan hidup yang kompleks tanpa merasa sesak.
Aspek kedua berkaitan dengan permohonan kemudahan dalam setiap urusan, baik itu pekerjaan maupun pendidikan. Ketiga adalah kemampuan berkomunikasi yang efektif agar pesan atau gagasan dapat diterima dengan jelas oleh orang lain.
Ditinjau dari perspektif ilmu komunikasi modern dalam buku Communication Skills karya Owen Hargie, kemampuan bicara yang baik memang krusial bagi keberhasilan hidup. Hal ini selaras dengan permohonan Nabi Musa AS agar lidahnya dilepaskan dari kekakuan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa esensi doa adalah pengakuan atas keterbatasan diri di hadapan Allah SWT. Ketika ketergantungan total itu hadir, maka pintu kemudahan akan mulai terbuka lebar.
Para ulama menyarankan agar doa ini dibaca saat seseorang menghadapi ujian berat, hendak berbicara di depan umum, atau saat memikul tanggung jawab yang besar. Praktik ini merupakan bentuk tawakal sebelum memulai aktivitas penting demi mendapatkan kelancaran.