Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan sekitar 65 persen masyarakat Indonesia menerima percobaan penipuan digital setidaknya satu kali dalam sepekan. Data tersebut disampaikan pada peluncuran solusi keamanan digital di Jakarta, Rabu (6/5/2025), sebagaimana dilansir dari Teknologi.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan bahwa skema penipuan ini memanfaatkan berbagai kanal komunikasi. Serangan dilancarkan melalui pesan singkat (SMS), surat elektronik, aplikasi WhatsApp, panggilan telepon, hingga pesan langsung di media sosial.
Menurut Edwin, penipuan digital mencakup seluruh aktivitas yang mengeksploitasi infrastruktur digital untuk transfer data dan uang secara ilegal. Pelaku sering kali mencatut nama institusi perbankan dan menyalahgunakan data pribadi untuk meyakinkan korbannya.
"65% orang Indonesia menerima upaya scam setidaknya sekali seminggu melalui SMS email, WhatsApp hingga panggilan telepon atau lewat medsos DM," kata Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi.
Pemerintah kini menaruh perhatian serius pada penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku kejahatan, termasuk teknologi deepfake. Edwin menegaskan bahwa regulasi AI sedang disiapkan untuk mengatur penggunaan teknologi berisiko tinggi guna meminimalkan penyalahgunaan.
"Kita tidak merasa itu penting sebagai investasi ketika kita belum merasakan kehilangan," katanya Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi.
Edwin menekankan bahwa sektor perbankan sangat rentan karena telah mengadopsi AI secara luas. Ia juga menyoroti rendahnya tingkat adopsi digital trust di Indonesia yang baru mencapai angka 9 persen dari potensi yang ada.
"Kita tidak tahu, jadi upaya kolaboratif diperlukan untuk memerangi penipuan digital," kata Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi.
Menanggapi situasi tersebut, sektor industri mulai mengembangkan sistem verifikasi identitas untuk menekan angka fraud. Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, memperkenalkan solusi Know Your Customer (KYC) berbasis percakapan yang dapat diakses melalui aplikasi perpesanan.
"Verify Now adalah perjalanan identitas digital yang disampaikan melalui WhatsApp atau aplikasi berbasis obrolan apa pun. Ini memungkinkan pelanggan memverifikasi identitas mereka langsung dari ponsel mereka dalam waktu kurang dari 60 detik," ujar Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA.
Layanan verifikasi tanpa kode ini dirancang untuk mempercepat proses identitas di sektor asuransi dan layanan keuangan yang sebelumnya dilakukan manual. Niki menjelaskan sistem ini mempermudah pendaftaran layanan digital hingga pemulihan akun yang rentan diambil alih.
"Cukup kirim tautan, verifikasi identitas, dan Anda dapat menerbitkan kartu SIM kepada orang yang tepat," kata Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA.
Saat ini solusi verifikasi tersebut masih dalam tahap peluncuran terbatas untuk memastikan kesiapan sistem keamanan. Teknologi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan regulasi sekaligus melindungi ekosistem ekonomi digital nasional.