Aroma gula merah yang pekat dari kukusan bambu kerap menyapa pejalan kaki yang melintasi kawasan Pasar Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Wewangian manis tersebut bersumber dari lapak dagangan roda dua berkelir hijau milik Suntana (38), seorang penjual kudapan tradisional dodongkal atau dongkal.
Seperti dilansir dari Megapolitan, penganan klasik khas Sunda ini rupanya masih mempertahankan basis penggemar setianya. Meski gempuran hidangan penutup modern dan kue yang viral di media sosial terus berdatangan, panganan lokal ini tidak kehilangan pesona.
Kudapan berbahan dasar tepung beras, parutan kelapa, serta gula aren ini tidak cuma dicari oleh kelompok usia tua untuk membangkitkan kenangan masa lalu. Golongan muda kini mulai menggemari dan penasaran terhadap cita rasa otentik yang disajikan.
Seorang perwakilan generasi Z, Yoyo (26), mengutarakan ketertarikannya pada dodongkal lantaran perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Dirinya menganggap kualitas rasa hidangan tradisional ini mampu bersaing dengan kue-kue modern.
"Kalau saya sih nilainya enakan dongkal dibanding kue kekinian. Karena kalau kue kekinian kadang rasanya aneh kebanyakan campuran, kalau ini kan bahannya alami, sudah gitu masaknya tradisional," kata Yoyo.
Konsumen muda lainnya, Ica (22), turut menyampaikan kesukaannya terhadap dongkal karena memiliki rasa manis sekaligus tekstur yang padat dan mengenyangkan.
"Suka dongkal, karena rasanya mah manis kue ini terus juga mengenyangkan juga," kata Ica.
Ica mengisahkan bahwa perkenalan awalnya dengan dodongkal bermula dari ajakan orang tua. Walau sempat tidak tertarik, ia langsung merasa cocok sejak gigitan pertama dan kerap membelinya di Pasar Bukit Duri dalam kemasan kotak porsi sedang seharga Rp 20.000.
Bagi Ica, nominal tersebut tergolong ramah di kantong mengingat tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Ia mengharapkan kuliner legendaris ini dapat terus bertahan di pasaran tanpa tergerus waktu.
"Semoga dongkal tetap ada ya di pasaran, ini kan makanan tradisional. Kalau bisa berinovasi pakai topping apa gitu, jadi kalau bosan gula merah ada pilihan lain," sambung Ica.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Reyna (28), yang mengenal panganan hangat ini berkat sang ibu ketika mengunjungi pasar tradisional. Reyna langsung terpikat oleh kombinasi tekstur legit dan rasa gurih remahan kelapa.
"Dia kayak crumble cake sih teksturnya kasar-kasar gitu ada remahan kelapanya, tapi kalau crumble cake kan tepung, mentega, gula (remahannya)," kata Reyna.
Menurut Reyna, sedikit sentuhan pembaruan dapat membuat dodongkal layak dipasarkan di kedai kopi modern berpasangan dengan menu pencuci mulut internasional.
Daya tarik dongkal juga melekat kuat pada kalangan lanjut usia, seperti Fia (58) yang masa kecilnya akrab dengan pedagang dongkal keliling. Kendati kini penjualnya semakin langka, rasa rindu Fia terobati saat menemukan kembali penganan ini dengan cita rasa yang konstan.
"Enggak sama aja rasanya, yang rasanya beda tuh karena ada yang gulanya banyak ada yang enggak, lebih enak lebih banyak gula dan kelapanya," kata Fia.
Minah (81), seorang lansia lainnya, juga mengakui keotentikan rasa dongkal yang tidak pernah bergeser sejak masa mudanya dahulu.
"Manis dan gurih ada rasa kelapanya, jadi enak. Orang-orang pada senang, bikinnya susah," kata Minah.
Minah menceritakan bahwa dahulu dirinya terbiasa menyantap dongkal saat siang hari dengan harga Rp 1.000 per porsi. Kini, nilai jualnya melonjak menjadi Rp 20.000 per kotak akibat kenaikan harga bahan baku utama di pasar.
"Sekarang jarang emang yang jualan, ada pun sekarang diboxin aja seharga Rp 20.000," sambung Minah.
Pakar Gastronomi Indonesia, Murdijati Gardjito, menjelaskan bahwa ketertarikan multi-generasi ini dipicu oleh kadar kemanisan dodongkal yang dinilai pas bagi lidah masyarakat.
"Kue itu disukai karena rasa manis dan manisnya pas. Orang Indonesia secara umum lebih suka kudapan berasa manis, dibandingkan rasa lain apalagi manisnya itu legit seperti kue dongkal," kata Murdijati.
Murdijati menambahkan, tantangan utama pembuatan dongkal terletak pada pengelolaan parutan kelapa yang mudah basi dan mesti diganti tiap dua jam. Durasi pengukusan pun wajib presisi agar tekstur adonan tidak menjadi terlalu lembek.
Agar tetap memikat generasi muda, Murdijati menyarankan adanya pembaruan estetika visual, misalnya membentuk adonan menyerupai gunung berapi aktif dengan lelehan cokelat di puncaknya yang diberi nama varian dongkal erupsi.
Inovasi lain yang diusulkan mencakup bentuk hati berhias lapisan susu dengan penamaan kreatif seperti 'dongkal milky love' untuk memperluas jangkauan pasar.
Sementara itu, Antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Imam Setyobudi, memaparkan sejumlah strategi adaptasi modern untuk mengikis kesan kuno tanpa merusak karakteristik mendasar dari dodongkal.
Imam Setyobudi merinci beberapa poin penting pembaruan bagi para pelaku usaha dodongkal:
1. Inovasi Rasa dan Topping
"Seperti penggunaan topping modern seperti keju parut, cokelat meses atau saus creamy di atas dodongkal yang masih hangat," ucap Imam.
Pengembangan adonan dasar juga dapat memanfaatkan bubuk perasa populer seperti matcha, red velvet, atau daun pandan alami guna memunculkan variasi warna serta aroma baru.
2. Pembaruan Kemasan dan Ukuran
Penjual disarankan bermigrasi dari plastik bening biasa menuju kotak kertas ramah pangan (food grade) dengan desain visual yang trendi. Penyediaan ukuran sekali gigit (bite-sized) juga dinilai lebih praktis bagi konsumen bermobilitas tinggi.
3. Optimalisasi Media Sosial
"Mengunggah video proses pemotongan dodongkal yang "memuaskan" (satisfying) ke TikTok atau Instagram Reels," ucap Imam.
Efek visual dari kepulan uap hangat serta lelehan gula aren kental saat kue dipotong menjadi instrumen promosi digital yang sangat memikat mata penonton muda.
4. Rebranding dan Integrasi Layanan
Pemanfaatan aplikasi pesan antar makanan daring atau ojek online menjadi krusial agar pembeli muda tidak perlu mendatangi pasar tradisional secara langsung. Langkah rebranding juga bisa dilakukan dengan memposisikan dodongkal sebagai teman minum kopi susu gula aren.
"Adaptasi ini terbukti berhasil membuat dodongkal kembali 'naik daun' di pusat-pusat kuliner kota besar," jelas Imam.