Kyla Gillespie Jalani Detransisi Setelah Enam Tahun Menjadi Pria

Kyla Gillespie Jalani Detransisi Setelah Enam Tahun Menjadi Pria

Kyla Gillespie memutuskan untuk melakukan detransisi guna kembali menjadi perempuan seutuhnya setelah menghabiskan waktu hampir enam tahun hidup sebagai laki-laki. Langkah ini diambil karena ia merasa tidak mendapatkan penjelasan medis yang memadai mengenai dampak emosional jangka panjang dari prosedur perubahan gender tersebut.

Kisah ini mencuat saat Kyla mengungkapkan bahwa pihak medis kurang mendalam dalam memaparkan potensi penyesalan pascaoperasi atau dampak fisik yang bersifat permanen, sebagaimana dilansir dari Wolipop. Wanita berusia 45 tahun itu mengaku sangat mengharapkan transparansi yang lebih besar dari para praktisi kesehatan.

"Aku berharap dokter menjelaskan lebih dalam tentang operasi, bahwa aku mungkin akan berduka atas bagian tubuh yang dihilangkan, dan bahwa proses itu akan sangat emosional," ujarnya kepada Fox News.

Perjalanan identitas gender Kyla dimulai sejak ia masih kanak-kanak, terutama saat ia merasa berbeda dari teman sebayanya ketika bermain hoki pada usia enam tahun. Memasuki masa remaja, ia menyadari ketertarikannya pada sesama jenis dan sempat bergulat dengan kecanduan alkohol selama 11 tahun sejak usia 19 tahun.

Kyla kemudian memutuskan untuk melakukan transisi saat berada di fasilitas pemulihan kecanduan. Ia mengganti namanya menjadi Bryson, menggunakan kata ganti pria, serta menjalani terapi hormon testosteron dan serangkaian prosedur bedah untuk mengubah penampilannya.

"Ada anggapan bahwa operasi ini akan membuatku merasa lebih utuh dan lebih sesuai dengan gender yang aku yakini. Aku berharap ada yang memberitahuku bahwa kita bisa berduka atas bagian tubuh yang dulu kita benci," katanya.

Kyla menambahkan bahwa selama proses transisi, mayoritas informasi yang diterimanya cenderung bersifat positif tanpa menyinggung sisi sulit dari perubahan tersebut. Namun, pencarian jati dirinya berlanjut hingga ia mengalami depresi berat dan akhirnya menemukan titik balik melalui pendekatan spiritual di komunitas gereja.

"Tuhan berkata, 'Kembalilah kepada-Ku, Kyla.' Saat itu aku sudah tidak memakai nama Kyla lagi, tapi anehnya aku merasa seperti pulang ketika mendengarnya," katanya.

Setelah sembilan tahun menjalani proses kembali sebagai perempuan, Kyla mencatat adanya kebingungan dari pihak medis yang ia temui. Ia menyatakan bahwa para dokter mengaku belum pernah menangani pasien yang melalui pengalaman detransisi seperti yang ia alami.

Saat ini, Kyla aktif mengelola organisasi Renewed & Transformed serta menulis buku berjudul TransFormed untuk membagikan pengalaman pribadinya terkait disforia gender. Melalui karyanya, ia ingin memberikan perspektif mengenai konsekuensi dari setiap pilihan besar dalam hidup.

"Aku berharap orang-orang memahami bahwa setiap pilihan punya konsekuensi. Tapi aku juga percaya ada pemulihan dan rekonsiliasi," tutupnya.

Artikel terkait

Rekomendasi