Lilla dan Mideer Dorong Tumbuh Kembang Anak Melalui Play Based Learning

Lilla dan Mideer Dorong Tumbuh Kembang Anak Melalui Play Based Learning

Lilla berkolaborasi dengan Mideer menyelenggarakan acara bertajuk The Ultimate Playground for Moms & Lil’ Ones di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, mulai Rabu (6/5) untuk memperkenalkan metode pembelajaran berbasis bermain bagi anak usia dini. Kegiatan ini bertujuan mendukung aspek perkembangan emosional dan fisik di tengah meningkatnya minat orang tua terhadap pola asuh teredukasi, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

CEO Lilla, Chrisanti Indiana, menyatakan bahwa meskipun orang tua saat ini memiliki akses informasi yang luas mengenai tren kesehatan dan pengasuhan, banyak di antara mereka yang justru merasa terbebani oleh banyaknya referensi yang tersedia. Fenomena ini mendorong para orang tua untuk lebih selektif dan melakukan riset mendalam sebelum menentukan aktivitas maupun produk bagi buah hati mereka.

“Orangtua zaman sekarang itu sebenarnya kita bisa bilang lebih teredukasi. Mereka juga lebih informed tentang tren parenting, kesehatan, dan tumbuh kembang. Tapi, at the same time, new parents ini sangat overwhelmed,” ujar Chrisanti Indiana, CEO Lilla.

Melalui inisiatif ini, Lilla memposisikan diri sebagai mitra pengasuhan yang menyediakan kebutuhan ibu dan anak guna mempermudah setiap fase menjadi orang tua. Perusahaan menghadirkan ragam alat permainan edukatif dari Mideer seperti ubin magnetik, teka-teki gambar, hingga buku papan yang dirancang khusus untuk mengasah motorik serta kemampuan sosial anak secara eksploratif.

“Mainan-mainan di Mideer ini banyak sekali yang bentuknya simple, desainnya bagus, jadi orangtua juga senang. Tapi sama anak bisa lebih fun. Jadi, bukan mainan yang cuma buat fun atau hiburan saja, tapi banyak sekali mainan yang open ended dan mengasah kreativitas,” ungkap Chrisanti Indiana, CEO Lilla.

Pemanfaatan permainan fisik ini juga dianggap efektif dalam mengalihkan perhatian anak dari layar gawai untuk menyeimbangkan tumbuh kembang mereka. Chrisanti menegaskan pentingnya membantu keluarga muda dalam mengelola durasi penggunaan perangkat elektronik pada anak di tengah rutinitas bekerja.

“Fokusnya gimana kita bisa membantu mereka menyeimbangkan tumbuh kembang dengan kesibukan sebagai parents,” pungkas Chrisanti Indiana, CEO Lilla.

Dampak positif dari permainan terstruktur ini turut dirasakan oleh Marla, seorang ibu rumah tangga yang mengamati perubahan pola pikir anaknya setelah rutin bermain puzzle sejak usia dini. Ia menilai permainan fisik memberikan tantangan emosional yang berbeda dan melatih kedisiplinan anak dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

“Dia suka kayak magnet, suka nyusun-nyusun berbentuk sesuatu. Misalnya rumah atau apa,” ujar Marla, Orangtua.

Perubahan tersebut terlihat dari kemampuan sang anak yang kini berusia delapan tahun dalam menyusun sesuatu secara sistematis dan rapi. Menurut pengalaman Marla, stimulasi melalui media fisik membantu anak memahami keterkaitan antar bagian dalam sebuah struktur permainan.

“Perkembangannya dia bisa menyusun dengan rapi. Misalnya ini bagian ini bukan, baiknya di sini atau di situ. Jadi nyambung ke semua hal,” kata Marla, Orangtua.

Selain manfaat kognitif, Marla juga mencatat adanya perbedaan reaksi emosional pada anak ketika menghadapi kesulitan saat bermain secara fisik dibandingkan dengan bermain menggunakan perangkat digital. Anak cenderung berusaha lebih keras secara personal untuk mengatasi hambatan dalam permainan nyata.

“Kalau ini dia kesalnya beda. Dia berusaha keras sendiri,” tutur Marla, Orangtua.

Masyarakat dapat mengakses area permainan edukatif dan mencoba pengalaman belajar sambil bermain ini secara langsung di lokasi acara. Kegiatan kolaborasi ini dijadwalkan berlangsung hingga hari Minggu (10/05) di area Food Society, Mall Kota Kasablanka.

Artikel terkait

Rekomendasi