Sebuah pencapaian mengejutkan terjadi di pasar komponen komputer China ketika produsen kartu grafis pendatang baru sukses menjual habis stok teranyar mereka. Seperti diberitakan oleh Tekno, produk buatan Lisuan Tech tersebut ludes dipesan dalam waktu yang sangat singkat.
Kartu grafis bernama LX 7G100 ini habis dipesan sebanyak 30.000 unit hanya dalam kurun waktu 48 jam sejak peluncurannya. Rekor penjualan ini berhasil diraih meskipun hasil benchmark perangkat tercatat biasa saja dan gagal memenuhi target performa pemasarannya.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa antusiasme konsumen lokal terhadap teknologi dalam negeri mampu mengalahkan pertimbangan rasio performa dan harga. Startup yang didirikan oleh mantan staf S3 Graphics pada 2021 ini diperkirakan meraup pendapatan kotor lebih dari 14,55 juta dollar AS atau setara Rp 250 miliar.
Lisuan Tech membanderol LX 7G100 dengan harga eceran yang disarankan sebesar 485 dollar AS atau sekitar Rp 8,5 juta. Angka penjualan pada fase pre-order kloter pertama ini menjadi tonggak sejarah baru di tengah industri yang selama ini didominasi oleh Nvidia dan AMD.
Pamor merek Lisuan Tech langsung meroket di platform e-commerce JD.com dengan menduduki peringkat keenam untuk penjualan kartu grafis. Posisi tersebut berada tepat di belakang merek-merek mapan sekelas Asus, Gigabyte, dan MSI.
Lisuan Tech menerapkan strategi jitu guna memaksimalkan momentum dan membangun hype di pasar dengan meniru langkah Nvidia. Mereka merilis unit terbatas bernama Founders Edition untuk model LX 7G100 yang hanya diproduksi sebanyak 1.000 unit.
Setiap kartu grafis pada edisi eksklusif ini diberi nomor seri unik. Selain itu, perangkat tersebut dibubuhi tanda tangan asli secara langsung oleh co-founder sekaligus co-CEO Lisuan Tech, Xuan Yifang.
Langkah pemasaran ini terbukti sangat diminati hingga kloter pertama edisi khusus langsung terjual habis dalam sekejap. Perusahaan kini telah menjadwalkan perilisan unit gelombang kedua yang siap dikirim pada tanggal 18 Juni 2026 mendatang.
Hasil Uji Performa dan Sertifikasi
Kesuksesan komersial ini rupanya tidak berbanding lurus dengan kualitas performa perangkat kerasnya berdasarkan data independen. Hasil pengujian menunjukkan adanya celah besar antara klaim pemasaran dan kemampuan riil perangkat.
Dalam kampanye pemasarannya, perusahaan memosisikan produk ini sebagai pesaing GeForce RTX 4060. Namun, pengujian independen dari Tom's Hardware menunjukkan performanya hanya setara dengan Nvidia GeForce RTX 3060 lawas dan tertinggal dari lini RTX 5060.
Banderol harga 485 dollar AS juga dinilai terlalu mahal karena setara dengan harga Nvidia GeForce RTX 5060 Ti yang berspesifikasi lebih mumpuni. Kartu grafis generasi pertama ini pun belum memiliki dukungan fitur pelacakan cahaya atau ray tracing yang mumpuni.
Meski tertinggal dalam angka benchmark, LX 7G100 mencetak sejarah sebagai kartu grafis level konsumen pertama asal China yang mengantongi sertifikasi driver Microsoft WHQL. Hal ini membuatnya memiliki tingkat kecocokan stabil untuk menjalankan game AAA modern sejak hari pertama.
Ludesnya puluhan ribu unit GPU ini menjadi bukti nyata tingginya kesediaan konsumen domestik untuk mendukung ekosistem teknologi lokal. Langkah ini sekaligus menjadi upaya untuk memutus ketergantungan dari dominasi Amerika Serikat.