Gema talbiyah terus berkumandang dari jutaan lisan umat muslim yang menjalankan ibadah haji dan umrah di Tanah Suci sebagai bentuk jawaban atas panggilan Allah SWT. Lafal ini menjadi pernyataan spiritual mendalam yang mengandung pesan tauhid, ketaatan, dan penghambaan total kepada Sang Pencipta.
Dikutip dari Cahaya, kalimat talbiyah mulai dilantunkan sejak seseorang menyatakan niat ihram di miqat. Secara bahasa, kata "labbaik" merepresentasikan kesiapan serta kesungguhan seorang hamba dalam menunaikan perintah tuhannya.
Berikut adalah lafaz lengkap talbiyah yang dibaca oleh para jamaah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ
"Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak."
"Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."
Simbol Tauhid dalam Pandangan Ulama
Akar dari talbiyah merujuk pada Surah Al-Hajj ayat 27, saat Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyeru manusia untuk datang berhaji. Kalimat ini menjadi jawaban abadi bagi setiap muslim yang memenuhi seruan tersebut hingga masa kini.
Sayyid Sabiq dalam buku Fiqh As-Sunnah menjelaskan bahwa talbiyah adalah simbol tauhid murni. Penegasan kalimat "laa syariika lak" yang diucapkan berulang kali menunjukkan inti haji adalah memurnikan penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Senada dengan hal itu, Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah menyebutkan bacaan ini merupakan deklarasi. Seluruh nikmat, pujian, dan kekuasaan secara mutlak diakui hanya milik Allah semata.
Ketentuan Waktu dan Cara Melafalkan
Pelaksanaan talbiyah memiliki batasan waktu yang jelas dalam rangkaian ibadah. Gema ini dimulai saat niat ihram dan terus dilantunkan sepanjang perjalanan menuju Makkah hingga pelaksanaan rangkaian manasik.
Bacaan ini secara resmi berakhir saat jamaah melakukan lemparan pertama pada jumrah Aqabah di tanggal 10 Zulhijah. Hal ini berlandaskan riwayat hadis yang menyatakan Nabi Muhammad SAW terus bertalbiyah hingga prosesi melempar jumrah dimulai.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menegaskan bahwa memperbanyak talbiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Jamaah disarankan membacanya dalam berbagai kondisi, baik saat berjalan, duduk, berkendaraan, maupun usai salat.
Mayoritas ulama menganjurkan agar talbiyah dibaca dengan suara yang lantang, terutama bagi kaum laki-laki sebagai bagian dari syiar Islam. Hal ini merujuk pada perintah Malaikat Jibril AS kepada Nabi untuk menyuruh para sahabat mengeraskan suara mereka.
Empat Keutamaan Spiritual Talbiyah
Selain sebagai ritual, talbiyah menyimpan keutamaan besar yang jarang disadari. Pertama, kalimat ini memperkuat kesadaran tauhid dan keikhlasan dalam hati setiap jamaah yang melafalkannya.
Kedua, talbiyah menghadirkan kesaksian dari seluruh alam semesta. Hadis riwayat Ibnu Majah menyebutkan bahwa batu, pohon, hingga tanah yang ada di sekitar orang yang bertalbiyah akan ikut bersaksi atas ketaatannya.
Ketiga, pelaksanaan talbiyah yang dibarengi keikhlasan menjadi sarana penghapus dosa bagi jamaah haji. Terakhir, pengulangan kalimat suci ini membawa hati pada kondisi tunduk dan sepenuhnya bergantung hanya kepada kekuasaan Allah SWT.