Memahami Makna Spiritual dan Doa Tawaf Wada Bagi Jamaah Haji

Memahami Makna Spiritual dan Doa Tawaf Wada Bagi Jamaah Haji

Tawaf wada’ menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam rangkaian ibadah haji dan umroh. Banyak jamaah haji tidak kuasa menahan air mata saat berada di hadapan Ka’bah untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan Tanah Suci. Seperti dilansir dari Cahaya, pada momen perpisahan itu, jamaah memanjatkan doa dengan penuh harapan agar ibadahnya diterima dan memperoleh ampunan dari Allah SWT.

Para ulama terdahulu juga memberikan perhatian khusus terhadap doa-doa yang dianjurkan ketika tawaf wada’. Anjuran ini terutama ditujukan saat jamaah berada di Multazam, yaitu area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Setelah seluruh rangkaian manasik haji selesai dilaksanakan, jamaah biasanya menjalani tawaf wada’ atau tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Kota Makkah. Pada momen tersebut, hati jamaah menjadi lebih lembut karena muncul rasa syukur telah diberi kesempatan datang ke Tanah Suci. Muncul pula kesadaran bahwa belum tentu mereka dapat kembali lagi ke Baitullah.

Selain berharap hajinya diterima dan memperoleh ridha Allah SWT, jamaah juga memohon perlindungan. Permohonan serta keberkahan turut dipanjatkan saat mereka bersiap kembali ke kampung halaman.

Anjuran Berdoa di Multazam

Dalam kitab Ad-Du‘a karya Imam ath-Thabrani disebutkan sejumlah riwayat mengenai doa yang dianjurkan ketika hendak meninggalkan Makkah. Salah satu riwayat berasal dari tabi’in besar Sa’id bin Jubair yang menganjurkan agar jamaah berdoa di Multazam, yakni tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ عِنْدَ وَدَاعِ الْبَيْتِ فِي الْمُلْتَزَمِ بَيْنَ الْحِجْرِ وَالْبَابِ

“Diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair, bahwa beliau senang berdoa ketika berpamitan dengan Baitullah di Multazam antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.”

Doa Tawaf Wada’ yang Dianjurkan

Salah satu doa yang dianjurkan dibaca ketika tawaf wada’ adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِك| لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan kebaikan.”

Doa Panjang Saat Akan Meninggalkan Makkah

Dalam riwayat lain dari Abdur Razzaq ash-Shan'ani dijelaskan adab seseorang ketika hendak pulang dari Makkah. Setelah tawaf wada’, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, kemudian berdiri di Multazam dan membaca doa panjang berikut:

اللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ، حَمَلْتَنِي عَلَى دَابَّتِكَ، وَسَيَّرْتَنِي فِي بِلَادِكَ حَتَّى أَدْخَلْتَنِي حَرَمَكَ وَأَمْنَكَ، وَهَذَا بَيْتُكَ، وَقَدْ رَجَوْتُكَ رَبِّ فِيهِ بِحُسْنِ ظَنِّي بِكَ أَنْ يَكُونَ قَدْ غَفَرْتَ لِي، فَإِنْ كُنْتَ رَبِّ غَفَرْتَ لِي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا، وَقَرِّبْنِي إِلَيْكَ زُلْفًا، وَإِنْ كُنْتَ رَبِّ لَمْ تَغْفِرْ لِي فَمِنَ الْآنَ رَبِّ فَاغْفِرْ لِي قَبْلَ أَنْ يَنْأَى عَنِّي بَيْتُكَ

“Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan anak dari hamba perempuan-Mu. Engkau telah membawaku di atas kendaraan-Mu dan menjalankanku di negeri-negeri-Mu hingga Engkau memasukkanku ke tanah haram-Mu dan keamanan-Mu. Inilah rumah-Mu. Aku berharap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan prasangka baikku kepada-Mu, semoga Engkau telah mengampuniku. Jika Engkau telah mengampuniku, maka tambahkanlah keridhaan-Mu kepadaku dan dekatkanlah aku kepada-Mu. Namun, jika Engkau belum mengampuniku, maka ampunilah aku mulai saat ini sebelum rumah-Mu jauh dariku.”

Makna Spiritual dalam Doa Tawaf Wada’

Doa tawaf wada’ menggambarkan pengakuan total seorang hamba di hadapan Allah SWT. Di dalamnya terdapat rasa syukur karena telah diberi kesempatan datang ke Tanah Suci, harapan besar akan ampunan, sekaligus ketakutan jika ibadahnya belum diterima.

Doa tersebut juga memuat permohonan perlindungan selama perjalanan pulang. Harapan agar Allah menjaga keluarga yang ditinggalkan maupun yang menunggu di rumah turut diselipkan.

Hal itu menunjukkan bahwa spiritualitas dalam ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah. Aspek spiritual ini juga mencakup tanggung jawab terhadap keluarga dan kehidupan setelah kembali dari Tanah Suci.

Artikel terkait

Rekomendasi