Melempar jumrah merupakan bagian esensial dalam rangkaian ibadah haji yang dilaksanakan jamaah saat berada di Mina. Seperti dilansir dari Cahaya, ritual ini melibatkan pelemparan batu kerikil ke tiga pilar utama, yaitu jumrah ula, jumrah wustho, dan jumrah aqabah.
Sesuai dengan syariat Islam yang diajarkan dalam manasik haji, setiap pilar tersebut harus dilempar dengan tujuh butir batu kerikil. Aktivitas ini tidak sekadar gerakan fisik, namun memiliki kedalaman makna spiritual sebagai bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu, dosa, serta godaan setan.
Berdasarkan keterangan dari MUI, ibadah melempar jumrah sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai aktivitas melempar batu semata. Ritual tersebut merepresentasikan keteguhan hati seorang mukmin untuk menepis segala bisikan buruk yang dapat mengotori kesucian hati.
Umat Islam yang sedang menjalankan amalan ini sangat dianjurkan untuk melakukannya dengan penuh penghayatan. Menghadirkan doa, harapan, dan perasaan menghamba kepada Allah SWT menjadi kunci agar ritual ini memberikan dampak pada kebersihan jiwa.
Tuntunan Doa saat Melempar Jumrah
Abdullah bin Umar radhiyallahu โanhu, seorang sahabat Nabi yang mulia, memberikan contoh konkret mengenai bacaan doa saat menjalankan ritual ini. Beliau melafalkan takbir setiap kali satu butir kerikil dilepaskan dari tangannya.
ุงูููู ุฃูููุจูุฑู
โAllah Mahabesar.โ
Setelah melantunkan takbir, Abdullah bin Umar menyambungnya dengan doa permohonan agar ibadah hajinya diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.
ุงููููููู ูู ุงุฌูุนููููู ุญูุฌููุง ู ูุจูุฑููุฑูุง ููุฐูููุจูุง ู ูุบููููุฑูุง
โYa Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.โ (HR Thabrani)
Penyebutan doa ini juga ditemukan dalam catatan sejarah Islam lainnya, termasuk kitab Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi serta Al-Musannaf milik Ibnu Abi Syaibah. Selain itu, riwayat dari Ibrahim an-Nakhaโi menyebutkan bahwa dirinya juga menyarankan pembacaan doa yang serupa saat ditanya oleh Mughirah.
Simbol Perlawanan Terhadap Muslihat Setan
Setiap butir kerikil yang dilemparkan menjadi momentum bagi para jamaah untuk memperkuat tekad dalam menghadapi tipu daya setan. Tindakan ini disimbolkan sebagai proses pelepasan diri dari berbagai kelalaian dan pengaruh buruk yang selama ini membelenggu batin seorang hamba.
Rangkaian manasik ini mengingatkan jamaah agar tidak hanya fokus pada penyelesaian rukun secara lahiriah. Fokus utama yang ditekankan adalah upaya memperbaiki kondisi hati serta memperkokoh ketaatan kepada Allah SWT setelah menyelesaikan seluruh prosesi ibadah haji di tanah suci.