Dua saudara kembar di Amerika Serikat, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter, ditangkap oleh aparat federal pada 3 Desember 2025 atas dakwaan penghapusan sekitar 96 database berisi informasi penting milik puluhan lembaga pemerintah federal AS, dilansir dari Tekno Kompas.com.
Aksi sabotase siber ini dilakukan hanya beberapa menit setelah keduanya dipecat melalui rapat daring pada 18 Februari 2025 dari Opexus, sebuah perusahaan kontraktor teknologi yang melayani lebih dari 45 lembaga pemerintah AS.
Penyelidikan mengungkapkan bahwa Muneeb memanfaatkan kelalaian perusahaan yang lupa menonaktifkan akun miliknya setelah pemecatan, lalu mengakses jaringan internal untuk menghapus database Departemen Keamanan Dalam Negeri AS serta mengunduh ribuan file sensitif milik Equal Employment Opportunity Commission (EEOC).
Sebelum insiden pemecatan terjadi, kedua bersaudara yang memiliki rekam jejak kriminal siber sejak 2015 ini juga diketahui sempat melakukan pencurian ribuan nama pengguna, kata sandi, serta data perpajakan ratusan warga dari jaringan internal perusahaan.
Saat melancarkan aksi penghancuran data tersebut, kedua pelaku terus berkomunikasi dan mendiskusikan langkah pembersihan jejak digital mereka.
"Aku lihat kamu lagi membersihkan backup database mereka," kata Sohaib.
Sohaib kemudian mengingatkan saudaranya mengenai pentingnya memiliki pembelaan hukum yang meyakinkan atas tindakan penghapusan data tersebut.
"Oke, kalau kamu punya plausible deniability (alasan masuk akal untuk menyangkal) yang bagus," imbuh Sohaib.
Muneeb yang merespons pernyataan tersebut meyakini bahwa pihak perusahaan masih memiliki salinan data cadangan yang dapat memulihkan kerusakan.
"Ah, mereka bisa pulihkan backup kemarin," kata Muneeb.
Sohaib menyetujui pendapat saudaranya dan kemudian menyarankan tindakan sabotase lebih lanjut pada sistem penyimpanan.
"Iya, mereka bisa," jawab Sohaib.
Muneeb pun sepakat dengan usulan Sohaib untuk menghapus sistem file secara keseluruhan demi menghilangkan jejak.
"Ide bagus," jawab Muneeb.
Sohaib sempat mengusulkan pembuatan naskah perintah pemutus otomatis serta opsi pemerasan uang kepada pihak Opexus, namun ide pemerasan itu ditolak oleh Muneeb karena dinilai terlalu berisiko.
"Tidak, jangan lakukan itu. Itu bukti kalau kita bersalah," kata Muneeb.
Sohaib juga mengutarakan kekhawatiran terkait potensi penggeledahan rumah oleh pihak berwenang akibat hilangnya puluhan database federal tersebut.
"Aku bakal bersihkan semua ini," jawab Muneeb.
Pasca-kejadian tersebut, aparat federal melakukan penggeledahan di kediaman mereka di Alexandria dan menyita berbagai perangkat teknologi beserta tujuh pucuk senjata api ilegal.
Muneeb Akhter kemudian menandatangani kesepakatan pengakuan bersalah pada April 2026, meski belakangan ia mencoba mencabut pengakuan tersebut melalui surat tulisan tangan dari dalam penjara.
Sementara itu, juri federal telah menyatakan Sohaib Akhter bersalah atas konspirasi penipuan komputer, perdagangan kata sandi, dan kepemilikan senjata api ilegal dalam persidangan pada 7 Mei 2026.