Masyarakat Tetap Belanja Self Reward Saat Rupiah Melemah

Masyarakat Tetap Belanja Self Reward Saat Rupiah Melemah

Penurunan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat memicu kenaikan biaya hidup. Situasi ini memaksa banyak orang untuk lebih selektif dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Meski kondisi ekonomi sedang tidak menentu, kecenderungan masyarakat untuk membeli barang-barang kecil sebagai penghargaan diri tetap tinggi. Fenomena psikologis ini dikenal dengan istilah lipstick effect.

Seperti dilansir dari Lifestyle, istilah lipstick effect awalnya diperkenalkan oleh Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder. Ia mengamati penjualan lipstik yang justru melonjak saat ekonomi melemah.

Forbes juga menyatakan bahwa fenomena ini menggambarkan perilaku konsumen yang tetap mencari kesenangan kecil di tengah situasi sulit. Salah satu pelaku yang merasakan dampak ini adalah Nadhifah Azhar (28), seorang sales manager di Yogyakarta.

Ia mengaku harus memperketat anggaran karena biaya hidup terus melonjak tanpa disertai kenaikan pendapatan.

“Dulu sekitar 30 persen gaji masih bisa masuk tabungan. Sekarang porsinya mengecil karena biaya hidup naik, sementara gaji nggak ikut naik,” ujar Nadhifah.

Walau membatasi pos pengeluaran lain, Nadhifah sulit mengurangi anggaran untuk makanan dan travelling. Baginya, kedua hal tersebut berfungsi sebagai stimulus emosional untuk menjaga produktivitas kerja.

“Makan enak, beli kopi, itu semacam stimulus supaya kerja lebih optimal. Travelling juga bikin aku lebih semangat kerja dan sering menghasilkan inspirasi baru setelah pulang,” katanya.

Kebutuhan self reward ini diakomodasi Nadhifah dengan menyisihkan 10 hingga 15 persen dari gaji bulanannya. Anggaran tersebut juga kadang dipakai untuk window shopping atau membeli produk fashion.

“Menurutku sekarang self reward itu sudah jadi kebutuhan. Alhasil aku memang punya pos khusus untuk itu,” ujarnya.

Jika anggaran bulanan tersebut tersisa, Nadhifah akan mengalokasikannya ke dalam tabungan khusus travelling. Kebiasaan ini diakuinya berkaitan erat dengan pengalaman masa kecilnya yang sempat dibahas bersama psikolog.

“Nah, akhirnya nggak sedikit juga barang-barang yang kubeli di saat aku tidak bisa membelinya waktu kecil dulu, dan itu rasanya puas banget jadinya,” bebernya.

Nadhifah menyadari pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak di tengah tekanan ekonomi. Namun, ia menilai pemenuhan self reward tetap krusial demi menjaga kesehatan mental dan motivasi di tempat kerja.

Artikel terkait

Rekomendasi