Seseorang yang mengetahui bahwa buah dari kesabaran adalah keridhaan akan senantiasa tabah menerima segala ketetapan Allah SWT. Mereka yang bersabar atas ketetapan-Nya diyakini bakal mewarisi keridhaan dari Allah SWT, seperti dilansir dari Detikcom.
Kelompok ini mampu menahan pahitnya ujian demi mencari keridhaan-Nya. Hal tersebut diibaratkan seperti obat pahit yang tetap diminum karena adanya harapan untuk sembuh setelah mengonsumsinya.
Penyingkapan tabir makrifat juga menjadi faktor yang membuat mereka bersabar menghadapi ketetapan-Nya. Maksud dari penyingkapan tabir dan penutup ini adalah dengan mengetahui apa yang akan terjadi nanti serta memahami hakikat ujian yang telah berlangsung.
Batin dari ujian tersebut pada hakikatnya merupakan anugerah dari Allah SWT. Melalui karunia ini, seorang hamba dapat mendekati Tuhan yang memberikan cobaan, menapaki tangga-tangga derajat mulia, sekaligus menghapuskan kesalahan-kesalahannya.
Ketika Allah SWT membebani hamba-Nya, Dia akan menyingkapkan tabir yang menutupi mata hati. Kondisi tersebut membuat sang hamba bisa melihat kedekatan Allah SWT, sehingga penderitaan ujian tidak lagi terasa.
Kesadaran atas rahasia ketentuan yang dikehendaki-Nya juga membuat mereka kuat dalam memikul beban kewajiban. Jika seseorang menyadari buah dan berkah kesabaran akan kembali kepada dirinya, niscaya ia akan bergegas untuk mengejar dan bergantung padanya.
Pemahaman bahwa syukur menjamin bertambahnya nikmat dari Allah SWT akan membuat seseorang bersemangat dan gigih untuk bersyukur. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam surah Ibrahim ayat 7.
"Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."
Dalam ayat tersebut, Allah SWT kembali mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan. Bila hal itu dilaksanakan, maka nikmat tersebut akan ditambah lagi oleh-Nya.
Sebaliknya, Allah SWT juga mengingatkan kepada mereka yang mengingkari nikmat-Nya dan tidak mau bersyukur bahwa Dia akan menimpakan azab-Nya yang sangat pedih. Mensyukuri rahmat Allah SWT sendiri bisa dilakukan melalui berbagai metode.
Cara pertama adalah dengan ucapan yang setulus hati. Langkah kedua diiringi dengan perbuatan, yaitu menggunakan rahmat tersebut untuk tujuan yang diridai oleh-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, dapat dilihat bahwa orang-orang yang dermawan dan suka menginfakkan hartanya untuk kepentingan umum serta menolong sesama pada umumnya tidak pernah jatuh miskin ataupun sengsara. Bahkan, rezekinya senantiasa bertambah, kekayaannya makin meningkat, dan hidupnya bahagia, dicintai, serta dihormati dalam pergaulan.
Sebaliknya, orang-orang kaya yang kikir atau suka menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti judi atau memungut riba, maka kekayaannya tidak bertambah bahkan lekas menyusut. Di samping itu, ia senantiasa dibenci dan dikutuk orang banyak, serta memperoleh hukuman yang berat di akhirat.
Rasa terhadap kelembutan dan kebaikan-Nya dalam setiap ketetapan juga membuat mereka bersabar atas setiap takdir. Allah SWT menyimpan wujud kelembutan-Nya di dalam hal-hal yang tidak disukai oleh hamba-hamba-Nya.
Hal ini tertuang dalam firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 216.
" Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Makna dari ayat tersebut menjelaskan bahwa selain diuji dengan kemiskinan dan kemelaratan, orang-orang beriman juga akan diuji dengan perintah mengorbankan jiwa mereka melalui kewajiban perang. Diwajibkan atas kaum mukmin berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi, padahal berperang itu tidak menyenangkan karena mengorbankan harta benda dan jiwa.
Tetapi boleh jadi seseorang tidak menyenangi sesuatu, yakni tidak menyukai peperangan, padahal itu baik karena mendatangkan kemenangan atas orang-orang kafir atau masuk surga jika terbunuh atau kalah dalam peperangan. Boleh jadi pula sesuatu yang disukai justru tidak baik.
Allah mengetahui apa yang baik untuk hamba-Nya, sedangkan manusia tidak mengetahui. Oleh karena itu, umat Islam diminta menunaikan perintah Allah yang pasti akan membawa kebaikan.
Terdapat pula hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi mengenai perkara ini.
"Surga diliputi hal-hal yang tidak menyenangkan dan neraka diliputi syahwat.
Di setiap cobaan, penyakit, dan kemiskinan terdapat rahasia kelembutan yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang mempunyai cahaya hati nurani. Pada setiap cobaan yang datang, selalu ada pertolongan Allah SWT yang menyertai.
Tulisan mengenai hikmah kesabaran dan ketetapan-Nya ini merupakan kiriman dari pembaca Detikcom bernama Aunur Rofiq.