Aksi melempar barang oleh balita sebenarnya menjadi indikator bahwa keterampilan motorik halus dan kasar mereka sedang mengalami perkembangan pesat. Aktivitas ini membutuhkan koordinasi yang selaras antara mata dan tangan anak.
Melalui tindakan ini, anak-anak juga sedang bereksperimen mengenai konsep sebab-akibat. Walaupun belum memahami istilah gravitasi, mereka menyadari bahwa setiap benda yang dilempar akan jatuh ke bawah.
Setiap benda menghasilkan reaksi berbeda saat dijatuhkan, seperti bola yang memantul atau makanan yang hancur. Balita bertindak layaknya ilmuwan kecil yang sedang melakukan eksplorasi ilmiah terhadap lingkungan sekitar.
Meskipun dampak dari lemparan tersebut sering kali merepotkan orang tua, proses ini merupakan pengalaman belajar yang penting bagi anak. Seperti dilansir dari Medcom, fase melempar ini hampir tidak bisa dihentikan total karena bagian dari perkembangan normal.
Perilaku ini tidak memerlukan hukuman keras selama tidak membahayakan diri sendiri, orang lain, atau merusak barang. Fokus utama orang tua adalah mengarahkan tindakan anak, bukan melarangnya secara mutlak.
Dikutip dari BabyCenter, terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan orang tua untuk menghadapi kebiasaan melempar pada anak.
Anak-anak akan lebih mudah memahami aturan jika orang tua memberikan pilihan benda yang aman untuk dilempar. Sediakan fasilitas seperti bola busa yang tidak berbahaya bagi lingkungan rumah.
Orang tua dapat mengajak anak melakukan permainan interaktif seperti memasukkan bola ke keranjang atau melempar kantong kain ke target. Aktivitas ini memberikan pemahaman bahwa melempar harus dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat.
Mengatasi Lemparan Agresif dan Berbahaya
Tindakan tegas dan tenang harus segera diambil jika anak mulai melempar benda keras, pasir, atau balok ke arah orang lain. Jika tindakan tersebut dipicu oleh amarah, orang tua perlu memvalidasi emosi anak terlebih dahulu.
Sampaikan bahwa orang tua memahami kekesalan mereka, lalu tawarkan aktivitas alternatif untuk menyalurkan emosi seperti melompat atau menepuk bantal. Pengawasan ketat dan pengurangan akses terhadap benda berbahaya juga perlu ditingkatkan.
Mengamankan Mainan di Kereta Bayi
Saat anak berada di dalam stroller atau kursi mobil, mainan dapat diikat menggunakan tali pendek yang aman agar tidak jatuh ke lantai. Pastikan ukuran tali tidak terlalu panjang untuk menghindari risiko melilit tubuh anak.
Melalui cara ini, balita tetap bisa merasakan kesenangan melempar dan menarik kembali mainan mereka. Orang tua juga tidak perlu repot mengambil mainan yang jatuh berulang kali.
Edukasi Lewat Kegiatan Membereskan Mainan
Mengajak anak merapikan kembali barang yang berserakan sebaiknya dilakukan lewat pendekatan permainan yang menyenangkan. Kegiatan ini melatih tanggung jawab anak tanpa membuat mereka merasa sedang dihukum.
Orang tua juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari karena anak belajar dengan cara meniru. Tunjukkan tindakan membuang tisu ke tempat sampah atau memasukkan kaus kaki kotor ke keranjang cucian sebagai contoh melempar yang benar.