Manusia akan memasuki alam barzakh setelah meninggal dunia dan terjadinya kiamat, seperti dilansir dari Detikcom. Alam tersebut berfungsi menjadi pemisah antara kehidupan dunia dan akhirat.
Secara bahasa, barzakh diartikan sebagai batas, dingin, atau jarak yang menghalangi dua hal untuk bertemu langsung. Penjelasan ini dimuat dalam buku Rahasia Selamat dari Siksa Kubur susunan Junaidi Ahmad.
Buku Panduan Praktis Agar Selamat di Alam Kubur karya Ustaz Manshur El-Mubarok menerangkan bahwa jenazah orang beriman akan memperoleh kelapangan kubur. Tempat mereka juga bakal diterangi supaya tidak gelap dan pengap.
Sebaliknya, siksaan dan kesengsaraan menanti manusia yang durhaka serta kerap berbuat maksiat selama hidup. Sementara itu, terdapat kelompok manusia yang dibiarkan tanpa mendapatkan kenikmatan maupun siksaan.
Golongan tersebut diibaratkan seperti orang tertidur yang baru terbangun saat kiamat datang. Kondisi ini dialami oleh mereka yang tingkat dosanya tidak sebesar kelompok durhaka.
Allah SWT memerintahkan para jenazah untuk tidur hingga hari akhir tiba. Ketika kiamat terjadi, mereka dibangkitkan kembali dengan keadaan yang berbeda-beda.
Bumi kubur akan menghimpit orang musyrik sampai kiamat datang. Keadaan manusia di alam tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW.
"Ketika mayat atau salah satu dari kalian telah dikubur, ia akan didatangi oleh dua malaikat berkulit hitam dan bermata biru. Yang satu bernama Munkar dan yang satunya lagi bernama Nakir. Mereka bertanya: 'Apa yang kamu katakan tentang orang ini?' la menjawab dengan benar: 'Dia adalah hamba sekaligus rasul utusan Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya.' Kedua malaikat tersebut berkata: 'Kami tahu bahwa kamu akan menjawab seperti itu.' Setelah itu, kuburnya dilapangkan seluas 70 hasta dikali 70 hasta dan diberi penerangan cahaya. Malaikat Munkar dan Nakir berkata: 'Tidurlah.' la berkata: 'Aku ingin pulang kepada keluargaku untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka.' Malaikat Munkar dan Nakir berkata: 'Tidurlah seperti pengantin baru yang hanya mau dibangunkan oleh anggota keluarganya yang tercinta sampai Allah membangkitkannya kembali dari tempat tidurnya tersebut. Sebaliknya, dengan orang munafik. Ketika ditanya apakah ia mengenal Nabi Muhammad, ia akan menjawab: 'Aku tidak tahu. Aku hanya mengenalnya seperti yang dikatakan orang-orang.' Malaikat Munkar dan Nakir berkata: 'Kami sudah tahu bahwa kamu akan menjawab seperti itu.' Lalu, mereka menyuruh bumi untuk mengimpitnya sehingga tulang-tulang rusuknya remuk. Dan, ia terus tersiksa sampai Allah membangkitkannya dari tempatnya tersebut." (HR Tirmidzi)
Buku Kekalkah Kita di Alam Akhirat? susunan Rizem Aizid menjabarkan sejumlah tingkatan yang dilewati manusia sesudah kiamat.
1. Hari Kebangkitan
Yaumul Ba'ats atau hari kebangkitan merupakan tahapan awal. Seluruh manusia dari zaman Nabi Adam AS hingga manusia terakhir yang hidup akan dibangkitkan setelah malaikat meniup sangkakala kedua.
وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم mِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ
Artinya: "Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka."
2. Hari Berkumpulnya Seluruh Manusia
Tahap berikutnya adalah Yaumul Mahsyar, yaitu momen dikumpulkannya seluruh manusia di Padang Mahsyar. Pada fase ini, semua orang akan menerima lembaran catatan amalan mereka.
وَأَشْرَقَتِ ٱلْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ وَجِا۟ىٓءَ بِٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: "Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan."
3. Hari Perhitungan
Yaumul Hisab menjadi tahap ketiga saat seluruh perbuatan baik dan buruk manusia dihitung setelah menerima catatan amal. Anggota tubuh manusia akan memberikan kesaksian masing-masing.
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Artinya: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
4. Hari Penimbangan
Tahapan keempat adalah Yaumul Mizan yang menjadi momen penimbangan seluruh amalan manusia secara adil. Manusia akan masuk surga jika timbangan kebaikannya lebih berat, dan sebaliknya.
وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ Lِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan."
5. Hari Melewati Jembatan
Selanjutnya adalah Yaumul Sirat, di mana manusia harus berjalan di atas jembatan yang menentukan tujuan ke surga atau neraka. Idik Saeful Bahri dalam buku Konsep Mayoritas Ahlussunnah wal Jamaah menyebutnya Shiratal Mustaqim yang berwujud sangat halus dan tajam.
وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ
Artinya: "Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak melewatinya (sirat di atas neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan."
6. Hari Pembalasan
Tahap final adalah Yaumul Jaza yang menjadi waktu penyerahan balasan atas segala perbuatan manusia di dunia. Balasan tersebut berupa penempatan manusia di dalam surga atau neraka.
وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً ۚ كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: "Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."